Nirāmisa Sukha (Kebahagiaan Yang Muncul Karena Perpisahan Dari 31 Alam)

Revisi 15 September 2017; 1 Juli 2018; 15 June 2020

1. Aspek penting kritis yang lain dari ajaran Buddha yang telah hilang adalah pentingnya nirāmisa sukha. Ada kebahagiaan dari meninggalkan kenikmatan indrawi, meninggalkan kebencian, dan meninggalkan ketidaktahuan (dengan mempelajari Dhamma), dan itulah yang disebut nirāmisa sukha. Inilah bagian dari Dhamma yang tidak disadari banyak orang.

2. Sebaliknya dari persepsi salah menyesatkan yang ada hari ini, sang Buddha tidak pernah mengatakan bahwa tidak ada āmisa sukha (kenikmatan indrawi) yang bisa diraih. Satu-satunya alasan orang melekat pada dunia ini adalah KARENA kenikmatan-kenikmatan indrawi yang ada.

  • Yang sang Buddha katakan adalah kenikmatan indrawi tersebut fana, tidak bertahan seterusnya. Bahkan jika seseorang mewarisi kekayaan dan hidup dalam kemewahan seluruh hidupnya, penderitaan tidak bisa dihindari pada kehidupan berikut atau banyak kehidupan berikutnya. Penderitaan (dukkha) sebenarnya berada di empat alam rendah (apāyā).
  • Nirāmisa sukha ada ketika tidak ada penderitaan.
  • Hal ini bisa dibandingkan dengan rasa lega yang didapatkan saat seseorang yang mengalami sakit kepala kronis seumur hidup menjadi sembuh.
  • Kita semua juga seperti hidup dengan “sakit kepala kronis” yang tidak kita sadari. Kita sudah terbiasa, dan bahkan tidak sadar ada “kondisi yang lebih baik”. Hanya saat seseorang mulai merasakan “stres yang berkurang” dari nirāmisa sukha, baru ia menyadarinya. Itulah inspirasi sebenarnya untuk berusaha mencapai tingkat-tingkat lebih tinggi dari Nibbāna.

3. Nirāmisa sukha memiliki kualitas yang berbeda dibandingkan dengan āmisa sukha atau kenikmatan dari sensasi yang kita semua nikmati; juga berbeda dari kenikmatan jhāna. Kenikmatan jhāna lebih baik dari kenikmatan indrawi (seperti yang diketahui para meditator), dan nirāmisa sukha kualitasnya jauh lebih baik.

  • Kenikmatan jhāna dan āmisa sukha hanyalah fana, tidak bertahan.
  • Nirāmisa sukha mulai meningkat saat seseorang memulai pada Jalan Mulia Berunsur Delapan, dan menjadi permanen saat tingkat Arahat. Terlebih lagi, semua kemajuan ini sampai tingkat Arahat dapat dicapai dalam kehidupan saat ini.

4. Penting untuk menyadari bahwa nirāmisa sukha tidak dapat dicapai hanya “dengan melepas hal-hal” atau meninggalkan semuanya dan pergi menyendiri. Ini adalah kesalahpahaman yang dimiliki banyak orang.

  • Sang Buddha tidak pernah meminta siapapun untuk meninggalkan gaya hidupnya. Ada orang-orang kaya dan bahkan para raja yang mencapai tingkat Sotāpanna dan sampai ke tingkat Anāgāmi ketika masih menjalani “kehidupan berumah tangga”.
  • Tidak ada artinya meninggalkan semuanya; bahkan jika seseorang menyumbangkannya, ia harus memastikan ia menyisakan jumlah yang cukup untuk dirinya dan keluarganya. Memenuhi tanggung jawab seseorang sama pentingnya dengan menjadi dermawan.

5. “Meninggalkan hal-hal duniawi” harus muncul dari pemahaman benar dari sifat alami “dunia ini”. Banyak orang yang meninggalkan hal-hal duniawi dan menjadi bhikkhu, tapi hanya setelah mereka melihat kesia-siaan dari mengidamkan hal-hal duniawi.

6. Sifat alami batin adalah harus melihat manfaat atau kenikmatan dari sesuatu terlebih dahulu sebelum merangkul hal tersebut.

  • Seseorang bisa memaksa batin untuk “meninggalkan” beberapa kenikmatan indrawi, tapi itu tidak bisa dipertahankan. Kebanyakan orang yang melakukannya karena ketidaktahuan (kesalahpahaman akan Dhamma) berakhir tidak terpuaskan dan meninggalkan usaha mereka.
  • Batin harus “melihat” bahwa ada pilihan lebih baik dibandingkan āmisa sukha atau kenikmatan indrawi. Ketika seseorang memulai di Jalan dan mulai menjalani kehidupan bermoral, ia akan perlahan-lahan melihat munculnya nirāmisa sukha.

7. Sang Buddha memberikan kiasan untuk menjelaskan efek ini. Pada jaman dahulu, ketika orang-orang berlayar ke laut untuk mencari daratan baru, mereka membawa burung dalam sangkar. Ketika mereka tersesat atau ingin mencari tahu apakah mereka dekat dengan daratan atau tidak, mereka melepas burung tersebut. Burung itu akan terbang berkeliling dan kembali ke kapal jika tidak ada daratan yang ditemukan.

8. Namun pada awalnya, akan membutuhkan waktu sampai nirāmisa sukha bisa terasa. Kita telah menjalani hidup dalam waktu yang lama dengan batin yang berkabut, karena itu akan butuh waktu untuk “membersihkannya”.

  • Ini seperti mengembangkan teknologi baru saat ini. Pada awalnya sulit untuk dimulai; seseorang harus membuat usaha bersama hanya untuk tetap “berlanjut”. Tapi ketika masyarakat mulai menyadari manfaat teknologi itu, teknologi itu akan langsung berkembang pesat: https://en.wikipedia.org/wiki/Technology_life_cycle
  • Tapi tidak seperti teknologi baru, ketika nirāmisa sukha mulai bertambah, hal itu tidak akan pernah turun selamanya (setelah mencapai tingkat Sotāpanna).
  • Sebuah “lompatan kuantum” (perubahan besar mendadak) terjadi pada tingkat Sotāpanna  dan tiga tingkat berikutnya, dan menjadi lengkap dan permanen pada tingkat Arahat. Namun, seorang Arahat bahkan masih akan mengalami buah dari kamma vipāka sebelumnya dan akan terserang penyakit FISIK yang masih menyebabkan penderitaan sampai hidup itu berakhir.

9. Perbedaan antara āmisa dan nirāmisa sukha dijelaskan di Nirāmisa Sutta (Samyutta Nikāya 36.31)“.

  • Terjemahan “Bahasa Inggris” dan “Bahasa Indonesia” – dan juga terjemahan dalam bahasa lain – juga tersedia di situs Sutta Central. Hampir semua suttā ada, sehingga tempat ini adalah sumber yang berguna.
  • Namun, seseorang harus ingat bahwa banyak kaca kunci Pāli salah diterjemahkan. Ini termasuk menerjemahkan anicca sebagai ketidakkekalan dan anatta sebagai “tanpa diri”.

10. Kebahagiaan Nibbāna berbeda dan tiadanya āmisa dan nirāmisa sukha.

  • Kebahagiaan Nibbāna adalah tiadanya penderitaan jenis APAPUN. Y.M. Sariputta menjelaskan hal itu di Nibbānasukha Sutta (AN 9.34).
  • Status seorang Arahat tidak dapat dipahami oleh siapapun yang baru memulai di Jalan. Lebih baik tidak mencari tahu hal itu di awal karena bisa menuntun ke kebingungan.

Berikutnya, “Apa itu Rupa? Hubungannya Dengan Nibbāna”