Jenis Tubuh di 31 Alam – Pentingnya Manomaya Kaya

Ditulis sebelum 23 Oktober 2015; direvisi 31 Mei 2016; revisi besar 1 Des 2018

1. Ada tiga kategori utama yang bisa dibagikan dari 31 alam: kāma lōka, rūpa lōka, dan arūpa lōka.

  • Makhluk hidup di kāma lōka berada di 11 alam: empat alam terendah (apāyā), alam manusia, dan enam alam dēvā.
  • Rūpa lōka memiliki 16 alam rūpāvacara brahma. Rūpāvacara brahma artinya seorang brahma di Rūpa lōka.
  • Arūpa lōka memiliki 4 alam arūpāvacara brahma.

2. Set indra yang terasosiasi dengan makhluk di tiga jenis “lōka” tersebut berbeda.

  • Mereka yang di arūpa lōka hanya memiliki pikiran. Karena itu, satu-satunya rūpa (atau materi) yang terasosiasi dengan seorang arūpi brahma adalah hadaya vatthu, yang memiliki ukuran materi terkecil dalam Buddha Dhamma yang disebut suddhattaka.
  • Suddhattaka tersebut sangat kecil dibandingkan sebuah atom dalam sains modern. Jadi, kita tidak bisa melihat para makhluk ini. Penting untuk dicatat bahwa kita bahkan tidak bisa melihat makhluk mikroskopis yang hidup di antara kita, seperti mereka di air minum. Hanya karena kita tidak bisa melihat mereka, bukan berarti mereka tidak ada.

3. Mereka yang di rūpa lōka hanya memiliki indra: mata, telinga, dan pikiran.

  • Tapi mata dan telinga mereka tidak padat dan terlihat seperti mata dan telinga fisik yang kita atau binatang miliki.
  • Melihat dan mendengar untuk para rūpāvacara brahma terjadi dengan bantuan cakkhu dan sota pasāda rūpa. Keduanya juga berukuran sebesar suddhattaka.
  • Karena itu, bahkan untuk seorang rūpāvacara brahma, seluruh “tubuh” mereka terbuat dari tiga suddhattaka, kecil tak terbayangkan. Kumpulan hadaya vatthu dan dua pasāda rūpa disebut manōmaya kaya milik brahma tersebut.
  • Seorang arūpāvacara brahma memiliki manōmaya kaya yang hanya memiliki hadaya vatthu.
  • Karena itu, bahkan dengan bantuan mikroskop tercanggih, tidak mungkin untuk melihat braham manapun di 20 alam tersebut.

4. Faktanya SEMUA MAKHLUK memiliki indra dasar masing-masing berukuran sebuah suddhattaka. Unit indra dasar untuk makhluk kāmāvacara ada enam: melihat, mendengar, mencicipi, mencium, menyentuh, dan berpikir.

  • Makhluk kāmāvacara manapun (termasuk manusia, binatang, dan dēvā) memiliki “tubuh murni” dengan lima indra tak terlihat tersebut yang disebut “pasāda rūpa“: cakkhu pasāda rūpa untuk melihat, sota pasāda rūpa untuk mendengar, ghana pasāda rūpa untuk mencicipi, jivhā pasāda rūpa untuk mencium, kāya pasāda rūpa untuk menyentuh.
  • Lima set pasāda rūpa ini dan hadaya vatthu membentuk “tubuh batin” atau “manōmaya kayasebuah makhluk hidup kāmāvacara.
  • Mudah untuk melihat bahwa seorang rūpāvacara brahma memiliki manōmaya kaya hanya dengan dua pasāda rūpa (untuk melihat dan mendengar) dan hadaya vatthu untuk berpikir. Seorang arūpāvacara brahma hanya memiliki hadaya vatthu untuk pikiran.

5. Mata, telinga, hidung, lidah fisik (padat) dan tubuh sebuah makhluk kāmāvacara (manusia atau binatang) hanya berfungsi sebagai “alat merasakan” untuk menangkap sinyal eksternal.

  • Lalu otak memproses sinyal tersebut dan mengirimnya ke manōmaya kaya yang berada di dalam tubuh padat ini. Saya akan menjelaskan ini di tulisan berikutnya.
  • Inilah mengapa bahkan untuk manusia, esensinya berada di manōmaya kaya. Tubuh padat hanyalah cangkang lembam yang “ditenagai” oleh manōmaya kaya. Ketika manōmaya kaya keluar saat kematian, tubuh fisik menjadi lembam seperti sebuah batang kayu.

6. “Manōmaya kaya” inilah yang menggenggam zigot di dalam kandungan saat pembuahan. Zigot tersebut terbuat dari gabungan ibu dan ayah; baca, “Penjelasan Buddhis Tentang Pembuahan, Aborsi, dan Kontrasepsi“.

  • Sebuah gandhabba yang masuk ke kandungan awalnya memiliki tubuh yang sedikit lebih padat dari manōmaya kaya. Sebagai tambahan dari “manōmaya kaya“, ia juga memiliki “tubuh materi”, tapi itu pun masih terlalu murni untuk dilihat oleh kita. Ketika si gandhabba masuk ke kandungan, “tubuh materi” itu terlepas dan hanya “manōmaya kaya yang sangat murni” bergabung dengan zigot.
  • Seperti yang telah dibahas di tulisan tersebut, zigot tersebut adalah sel yang terbentuk dari penggabungan antara ibu dan ayah, dan juga sangat dipahami di sains modern. Tentunya sains modern tidak menyadari manōmaya kaya dari gandhabba yang bergabung dengan zigot.
  • Faktanya, para ilmuwan tidak tahu bagaimana zigot menjadi sebuah “kehidupan baru”, sebuah makhluk hidup baru.
  • Gandhabba dibahas di “Tubuh Batin – Gandhabba“.

7. Sekarang zigot tersebut dengan manōmaya kaya, mulai membelah menjadi sel-sel baru yang semakin banyak. Energi yang dibutuhkan untuk membuat sel-sel baru tersebut datang dari sang ibu (dari makanan yang dimakan oleh sang ibu).

  • Satu sel awal tersebut bertumbuh menjadi bayi yang ukurannya keluar dari kandungan setelah sembilan bulan. Sekarang kita bisa melihat bahwa manōmaya kaya yang penting — dengan indra dasar — sangatlah kecil dibandingkan dengan bayi tersebut.
  • Tentunya setelah keluar dari kandungan, si bayi bertumbuh dengan makan makanan dan akhirnya bertumbuh menjadi dewasa. Sebenarnya semua materi padat di orang dewasa hanyalah materi tidak hidup. Inilah mengapa seseorang bisa hilang sepertiga atau bahkan setengah massa tubuhnya, dan masih tetap “orang yang sama”.

8. Karena itu, tidak banyak yang ada di tubuh padat berat yang mendefinisikan “orang” tersebut. Seluruh aspek penting berada di tubuh batin atau manōmaya kaya.

  • Tubuh padat tersebut dibuat hidup oleh manōmaya kaya dengan hadaya vatthu dan lima pasāda rūpa. Sulit untuk dipercaya tapi itulah yang terjadi.
  • Saat matinya tubuh fisik, manōmaya kaya tersebut keluar. Saat keluar, ia memiliki tubuh “jenis fisik” sangat murni yang menyerupai tubuh orang tersebut yang baru meninggal. Kombinasi tubuh murni itu sangat “seperti-hantu” dan bisa dilihat bahkan oleh beberapa orang. Itulah yang disebut gandhabba dan ia sekarang menunggu tubuh yang cocok lainnya untuk dimasuki, jika masih tersisa energi kamma untuk “bhava manusia”.

9. Bagi para brahma di rupa loka, tiga unit materi terbentuk oleh energi kamma saat terlahir; karena mereka memiliki tiga unit materi, “tubuh” awal yang terbentuk pada momen patisandhi disebut “thrija kaya“. Tiga unit tersebut adalah kammaja kaya, cittaja kaya, dan utuja kaya. Utuja kaya adalah tubuh fisik yang sangat murni, dan para “rupi brahma” bisa “melihat” dan “mendengar”.

  • Para rupi brahma memiliki kammaja kaya yang terdiri dari kaya dasaka, vatthu dasaka, bhava dasaka, dan juga dua pasada rupa untuk melihat dan mendengar: cakkhu pasada dan sota pasada. Pasada rupa ini pada dasarnya juga suddhattaka dengan mode putaran/rotasi (“bramana“/”paribramana“); baca, “31 Alam Yang Terkait dengan Bumi“.
  • Walaupun “kaya” diterjemahkan sebagai “tubuh”, satu-satunya “tubuh fisik” seorang “rupi brahma” adalah “utuja kaya“. Sehingga “kaya” tidak berarti “tubuh fisik”.

10. Tubuh-tubuh fisik (utuja kaya) para rupi brahma jauh lebih murni dibandingkan para deva, dan karena itu para deva tidak bisa melihat para rupi brahma seperti kita tidak bisa melihat para deva.

  • Para brahma (dan juga deva) bisa “melihat” tanpa bantuan cahaya dan “mendengar” tanpa perlu udara meneruskan gelombang suara; “tubuh fisik” mereka tidak memliki “mata” dan “telinga” seperti kita. Sehingga mereka bisa “melihat” dan “mendengar” dari jarak sangat jauh. Dan mereka bisa di manapun yang mereka inginkan dalam waktu singkat.
  • Analogi terdekat tentang bagaimana “penglihatan” mereka bekerja seperti bagaimana kita “melihat” mimpi; kita tidak butuh mata untuk melihat mimpi. Para brahma hanya “melihat” (merasakan mungkin kata yang lebih baik). Hal ini akan semakin jelas ketika kita semakin detail nanti.

11. Aturan dasar praktisnya adalah kalau makhluk di alam lebih rendah, secara umum, tidak bisa melihat makhluk di alam lebih tinggi; manusia tentunya memiliki kapabilitas untuk mengembangkan kekuatan abhinna dan “melihat” para makhluk di alam lebih tinggi.

  • Di kamaloka, alam paling tinggi tentunya alam deva. Para deva juga terlahir secara instan (kelahiran opapatika) seperti dua jenis brahma. Namun, para deva memiliki jenis tubuh keempat yang disebut “karaja kaya“, yang seperti tubuh fisik kita. Dan mereka harus mengonsumsi makanan (“amurtha“) seperti kita secara teratur untuk mempertahankan “karaja kaya” mereka yang juga disebut “aharaja kaya” karena membutuhkan makanan untuk dipertahankan.
  • Sehingga para deva memiliki “empat tubuh” atau “chatuja kaya“, yaitu empat tubuh “kammaja kaya“, cittaja kaya, utuja kaya, dan “karaja kaya” secara kolektif disebut sebuah “chatuja kaya“.
  • Tapi para deva (dan brahma) tidak bisa sakit. Mereka hanya mati dan menghilang ketika energi kamma untuk eksistensi tersebut habis.

12. Ketika manusia dan binatang pertama “terlahir” ke eksistensi tersebut, mereka juga secara instan terbentuk ke bentuk yang mirip seorang brahma. Inilah manōmaya kaya yang dihasilkan oleh energi kamma pada momen cuti-patisandhi.

  • Manōmaya kaya itu dipadatkan menjadi kondisi gandhabba yang telah kita bicara di tulisan sebelumnya; baca, “Gandhabba (Manomaya Kaya) – Perkenalan” dan tulisan-tulisan yang mengikutinya.
  • Sebagai contoh, jika seseorang mati dan jika dia masih memiliki energi kamma tersisa untuk “bhava manusia”, maka dia akan terlahir sebagai manusia; jika tidak, dia akan menangkap “bhava” yang lain tergantung dari kamma vipaka kuat masa lalunya. Sebagai contoh, “bhava” berikutnya bisa jadi seekor rusa.
  • Jika dia terlahir kembali sebagai manusia, sebuah “gandhabba manusia” akan muncul dari tubuh matinya; jika dia akan terlahir sebagai seekor rusa, maka sebuah “gandhabba rusa” akan muncul dari tubuh matinya.

13. Tubuh gandhabba manusia atau binatang juga adalah “chatuja kaya” seperti milik deva; tapi lebih halus dibandingkan deva. Gandhabba hanya bisa menghirup aroma (“gandha” + “abba“) sebagai makanan, dan itulah asal sebutannya.

  • Seperti brahma atau deva, gandhabba bisa “melihat” dan “mendengar” dari jarak jauh. Gandhabba tidak memiliki tubuh padat untuk mendukung mata atau telinga fisik. (Tentunya kita sulit untuk membayangkannya, tapi bisa dibandingkan seperti apa yang terjadi ketika kita bermimpi. Tidak butuh cahaya untuk melihat mimpi; kita melihat mimpi dalam keadaan sangat gelap di malam hari; kita tidak “melihat” mimpi dengan mata kita).
  • Walaupun seseorang berpikir bahwa enak menjadi gandhabba, gandhbba manusia selalu dalam kondisi stres (sengsara mungkin lebih cocok). Gandhabba tidak bisa menikmati kenikmatan duniawi “kontak” apapun karena tubuhnya sangat halus; tidak bisa merasakan makanan atau menggenggam apapun. Yang paling utama, gandhabba menderita secara batin karena ia bisa “melihat” manusia biasa “menikmati hidup” makan makanan enak, menikmati seks, dll.

14. Tentunya, brahma dan deva juga bisa “melihat” manusia melakukan aktivitas tersebut (kalau mereka mau), tapi mereka tidak punya kesukaan (upadana) untuk “kenikmatan kasar” seperti itu. Keadaan batin mereka lebih tinggi, seperti seorang manusia yang telah mengembangkan kekuatan abhinna. Mereka dikatakan jijik terhadap tubuh manusia. Seperti kita yang “tidak kehilangan” aktivitas-aktivitas cacaing, mereka tidak tertarik dengan aktivitas para manusia. Semuanya tergantung dengan pola pikir yang terasosiasi dengan bhava tertentu.

  • Tetapi sebuah gandhabba menerima “bhava” manusia atau binatang karena dia sangat MENDAMBAKAN “kenikmatin sensual kasar”: “upadana paccaya bhava“.

15. Sehingga kita bisa lihat bahwa kita mendapatkan tubuh yang padat ini KARENA itulah yang sangat kita inginkan. Selama kita masih mendambakan “kenikmatan sensual kasar” seperti ini, kita akan terlahir di kamaloka. Walaupun para deva juga berada di kamaloka, pendambaan mereka tidak “sekasar” itu. Mereka tidak perlu “memegang erat benda-benda” untuk mendapatkan kenikmatan.

  • Para brahma di rupa loka bahkan lebih tidak mempunyai “kenikmatan sensual kasar”; mereka tidak memiliki hasrat akan rasa, penciuman, atau sentuhan tubuh. Melihat dan mendengar sudah cukup untuk mereka.
  • Para brahma di arupa loka bahkan tidak memiliki hasrat untuk penglihatan dan suara. Kenikmatan pikiran sudah cukup untuk mereka, dan keberadaan materi sangat minim di arupa loka.

16. Apa yang tidak kita sadari adalah bahwa memiliki “tubuh padat” juga menuntun ke berbagai penyakit, dan juga terpapar ke pelapukan saat menjadi tua.

  • Terlebih, sekarang kemampuan untuk “melihat” dan “mendengar” melalui jarak yang jauh menjadi hilang. Sekarang gandhabba tersebut terjebak dalam tubuh berat, padat, dan harus “melihat” dan “mendengar” melalui “pintu fisik” yang terlekat ke tubuh itu. Itulah pengorbanan yang harus dibuat untuk bisa memiliki “pengalaman mencengkeram”, untuk bisa menikmati makanan kasar, kenikmatan seksual, dll.
  • Sang Buddha menyebut tubuh fisik (“karaja kaya” atau “aharaja kaya“) sebuah “gua” atau “cangkang” yang si gandhabba gunakan untuk sementara. Tubuh itu memiliki waktu kehidupan tertentu dan pada masa itu bertumbuh, melapuk, dan akhirnya mati. Lalu si gandhabba perlu mencari tubuh lain. Terutama dalam kama loka, kita hanya membangun “cangkang baru” ketika yang lama mati, tapi juga menghabiskan waktu yang banyak sebagai gandhabba frustrasi yang menunggu sebuah rahim yang cocok untuk mulai membangun tubuh yang baru.

17. Karena itu seharusnya sekarang sudah cukup jelas bahwa hanya “tubuh fisik” yang melapuk dan akhirnya mati; seorang gandhabba manusia akan terus berevolusi dan akan menemukan sebuah “tubuh baru” mirip dengan yang lama JIKA energi kamma untuk bhava tersebut belum habis. Jika tidak, gandhabba manusia tersebut akan langsung hilang (seperti deva atau brahma saat kematian), dan sebuah gandhabba binatang baru akan muncul jika bhava baru tersebut adalah sebuah binatang; lihat, “Bhava dan Jati – Kondisi Eksistensi dan Kelahiran di Dalamnya“.

  • Sehingga kita sekarang bisa melihat bahkan untuk manusia dan binatang, “dasar”-nya adalah sebuah tubuh murni gandhabba yang memiliki tubuh murni seperti seorang rupa brahma (dan lebih murni dari tubuh seorang deva). “Tubuh padat” mulai bertumbuh di dalam rahim ibu dan berlanjut setelah “kelahiran” seorang bayi dengan memakan makanan.

18. Alam menggunakan tubuh fisik atau “cangkang” ini untuk memberikan kamma vipaka juga. Kita perlu untuk selalu membersihkan tubuh ini secara konsisten, dan juga perlu untuk merawat bagian-bagian tubuh yang penting. Ini adalah bagian dari “penderitaan fisik” yang tidak kita pikirkan kembali.

  • Dan tentunya kita akan terserang bukan hanya dengan masuk angin dan sakit kepala, tapi juga penyakit-penyakit berat lainnya seperti masalah jantung atau kanker; ini juga bagian dari “penderitaan fisik”. Kedua jenis “penderitaan fisik” timbul dikarenakan tubuh fisik.
  • Namun, kesulitan ini “tertutup” oleh sensasi “kebahagiaan masa depan yang kita antisipasi” dengan mendapatkan “benda-benda menyenangkan” ini dan itu.

19. Ketika beberapa dari “harapan dan impian” tersebut tidak tercapai, kita menjadi sangat putus asa. Kebanyakan bunuh diri dilakukan dalam kondisi seperti ini, dan “penderitaan atin” ini bisa lebih parah dibandingkan “penderitaan fisik” yang dibahas sebelumnya. Sangat membantu untuk membaca MENGAPA bahkan orang-orang terkenal dan kaya bunuh diri; itu juga salah satu bentuk dari meditasi. Kita perlu mengerti bagaimana penderitaan muncul agar bisa merasakan dampak lengkapnya dan menjadi termotivasi untuk menghentikan penderitaan MASA DEPAN agar tidak timbul.

  • Namun, tujuan utama dari easi ini adalah menunjukkan sifat alamiah dari tubuh fisik. Walaupun kita terpesona (terutama pada usia muda) dengan penampilan tubuh kita, ketika kita menjadi tua kita bisa melihat dan mengalami penderitaan yang kita tahan karena “cangkan” sementara ini yang kita sangat hargai. Tubuh ini hanya akan bertahan 100 tahun, lalu kita akan pindah ke tubuh lain; inilah yang telah kita lakukan selama eon yang tak terhitung.

20. Poin lainnya yang bahkan lebih penting adalah sifat spesial dari tubuh manusia adalah memiliki otak yang sangat berkembang; lihat, “Otak – Antarmuka antara Pikiran dan Tubuh“. Itulah yang membuat kehidupan manusia spesial, karena itu yang memungkinkan kita untuk mengerti pesan sang Buddha dan bisa terbebas dari lingkaran kelahiran kembali yang penuh penderitaan.

  • Bagaimana tubuh makhluk neraka disiapkan oleh energi kamma untuk memberikan kamma vipaka (mereka tidak dapat melakukan abhisankhara, terutama punna abhisankhara) dibahas di “Apakah Neraka (Niraya) Ada?.