Gandhabba Merasakan Dunia – Dengan dan Tanpa Tubuh Fisik

10 Juni 2016; direvisi 24 Januari 2020

Gandhabba adalah “Tubuh Batin” dari Seorang Manusia

1. Tubuh fisik hanyalah sebuah tempat tinggal sementara untuk gandhabba.

Perbedaan Ras dan Budaya Tidak Ada Artinya

2. Karena itu pembagian ras dan budaya yang diributkan orang-orang setiap hari tidak ada artinya; identitas tersebut berubah seiring gandhabba-nya “mengubah tubuh fisiknya” dari tiap-tiap kehidupan. Secara dasar, seorang orang Cina bisa terlahir sebagai seorang “orang kulit hitam” di Afrika atau sebagai “orang kulit putih” di Eropa pada kehidupan berikutnya. Namun, kehidupan yang berdekatan umumnya berada di lokasi geografis yang mirip karena kondisi untuk “gati” yang cocok. Lalu, pada “bhava manusia” berikutnya yang mungkin bisa datang setelah miliaran tahun — gati seseorang akan telah berubah drastis.

  • Semakin banyak orang yang mulai menangkap Buddha Dhamma, sebagian besar kekerasan di dunia bisaberkurang. Bersama dengan itu, seseorang yang mungkin terlahir dalam kemiskinan di kehidupan ini bisa terlahir sebagai orang kaya di kehidupan berikutnya (jika kebajikan yang terkumpul cukup), dan sebaliknya. Seluruh perjuangan yang kita lalui hanya untuk jangkan waktu yang sangat pendek di skala samsāra (lingkaran kelahiran kembali) atau bahkan dibandingkan dengan durasi satu bhava manusia (yang bisa berlangsung selama banyak ratusan tahun). Sehingga sangat bijaksana untuk “investasi untuk jangka panjang.”

Alat Indera Ada di Gandhabba

3. Tubuh fisik menutupi sistem indera gandhabba selama gandhabba tersebut di dalam tubuh fisik. Gandhabba memiliki seluruh alat indera. Tapi sekarang “sinyal sensor eksternal” tersebut harus datang melalui mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan mana indriya di otak.

  • Ketika di luar tubuh fisik (dan menunggu sebuah rahim yang cocok), gandhabba tidak bisa makan atau menyentuh secara fisik benda-benda padat, karena dia tidak memiliki “tubuh padat”. Tapi dia bisa mendengar dan melihat. Terlebih lagi, dia menggunakan sistem indera yang sangat canggih (bukan cahaya atau gelombang suara) untuk melihat dan mendengar, yang akan kita bahas secara singkat di bawah.

Perbedaan Antara Indriya dan Āyatana

4. Sang Buddha menganalisa dunia dalam berbagai cara yang berbeda. Di sini kami menampilkan salah satu analisa tersebut karena bisa menyediakan wawasan berbeda tentang gandhabba.

  • Kita memiliki enam alat indera (indriya atau āyatana) untuk mengalami enam jenis “materi” (rūpa) berbeda di dunia kita. Ada hubungan tipis antara enam alat indera kita dengan jenis-jenis “materi” di dunia. Kita akan membahas hubungan ini.
  • Omong-omong, indriya dan āyatana memiliki arti yang berbeda. Sebagai contoh, mata adalah indriya ketika kita hanya melihat. Tapi mereka menjadi āyatana saat kita menggunakannya untuk kenikmatan, cth. secara sengaja melihat benda-benda yang menyenangkan pikiran untuk menikmatinya. Hanya seorang Arahant yang selalu menggunakan indera mereka hanya di indriya saja.
  • Itu adalah cara lain untuk mendefinisikan dan menganalisa dunia kita. Semua di dunia kita termasuk kepada 12 āyatana. Terkadang mereka disebut enak ajjhatta āyatana (atau āyatana internal atau alat indera) dan enam bahiddha āyatana (hal-hal di dunia eksternal yang kita rasakan).

5. Hal di bawah ini ditulis dalam Pāli di #6 dalam tulisan, “Apa itu Dhamma? – Sebuah Analisis Mendalam“. Yang lebih mudah di, “Apa itu Rupa? – Dhamma Juga Rupa!

  • Kita menyentuh materi terpadat (pottabba) di luar sana dengan tubuh (kāya) kita.
  • Berikutnya, yang lebih tidak padat dirasakan (rasa) dengan lidah (jivha) kita.
  • Kita menghirup partikel yang semakin tidak padat, bebauan (gandha), dengan hidung (ghāna) kita.
  • Mendengar menggunakan getaran yang tersebar melalui udara (sadda) dengan telinga (sōta) kita.
  • Kita melihat dengan bantuan foton yang tersebar di ruang (varna) dengan mata (cakkhu) kita.
  • Kesadaran kita muncul melalui dhammā di bidang pikiran dengan pikiran (mano) kita.

Dhammā Hanyalah Energi

6. Jenis terakhir dari rūpa (dhammā) bukan materi padat, tapi hanya energi; baca, “Apa itu Dhamma? – Sebuah Analisis Mendalam.”

  • Sehingga dhammā tidak menempati ruang (ākāsa) dan berada di bidang pikiran atau dunia batin.
  • Lima jenis rūpa yang lain menempati ruang dan berada di dunia materi.
  • Jadi, rūpa tidak bisa diartikan sebagai “materi”. Baca, “Dua Dunia Kita: Materi dan Batin.” Itulah mengapa terkadang lebih baik untuk menggunakan kata-kata Pāli.

Bagaimana Gandhabba “Melihat” Saat di Dalam Sebuah Tubuh Fisik?

7. Sebenarnya gandhabba melalui proses yang rumit untuk melihat, mendengar, dll. ketika berada di dalam tubuh fisik (karaja kāya) seperti milik kita. Saya telah menjelaskan secara dasar di “Citta dan Cetasika – Bagiamana Viññāṇa (Kesadaran) Muncul,” “Gandhabba (Manomaya Kaya) – Perkenalan,” dan banyak tulisan lainnya.

  • Namun, jauh lebih mudah untuk mengerti bagaimana gandhabba melihat dan mendengar saat berada di luar tubuh fisik. Walaupun kebanyakan dari kita belum tentu pernah mengalami “out of body experience,” itu bisa terjadi, terutama saat operasi jantung; baca, “Manomaya Kaya dan Out of Body Experience (OBE).” Beberapa orang memilik kemampuan alami untuk melakukan dengan sengaja, seperti yang dibahas di tulisan tersebut.
  • Maka dari itu mari kita bahas bagaimana gandhabba tunggal melihat dan mendengar ketika berada di luar tubuh fisik; ini bukan hanya lebih mudah tapi memberikan kita beberapa wawasan.

Alat Indera di Gandhabba

8. Alat indera asli yang diproduksi oleh energi kamma saat di momen cuti-patisandhi berada di kammaja kāya dari gandhabba. Tubuh halus gandhabba memiliki tiga komponen, seperti yang telah kita bahas dan akan kita bahas kembali di bawah. Alat inderanya semua berada di kammaja kāya.

  • Kammaja kāya sebuah gandhabba memiliki tujuh elemen penting yang disebut dasaka, yang berarti entitas dengan sepuluh hal. Mereka muncul dari suddhāṭṭhaka, yang terdiri dari delapan “hal,” seperti yang telah kita bahas; baca, “Asal Usul Materi – Suddhāṭṭhaka.” Jenis-jenis berbeda dari dasaka terbentuk hanya dengan menggabungkan satu mode putaran (bramana) dan satu mode rotasi (paribramana); baca, “31 Alam Yang Terkait Dengan Bumi“.
  • Tambahan satu komponen memberikan kemunculan jivita rūpa; ini kemungkinan datang dari mode putara (bramana), tapi saya belum yakin. Jivita rūpa ini ada di semua jenis dasaka karena itulah yang “memelihara kehidupan.” Sehingga berbagai jenis dasaka lainnya (lihat di bawah) muncul karena mode rotasi (paribramana) yang berbeda.

9. Sekarang kita bisa membuat daftar perbedaan 7 jenis dasaka berbeda yang ada di kammaja kāya sebuah gandhabba.

  • Vatthu dasaka (pikiran; juga disebut hadaya vatthu): suddhāṭṭhakajivita rūpa + hadaya rūpa
  • Kaya dasaka (tubuh): suddhāṭṭhakajivita rūpa + kāya pasāda rūpa
  • Cakkhu dasaka (indriya mata): suddhāṭṭhakajivita rūpa + cakkhu pasāda rūpa
  • Sota dasaka (indriya telinga): suddhāṭṭhakajivita rūpa + sōta pasāda rūpa
  • Ghana dasaka (indriya hidung): suddhāṭṭhakajivita rūpa + ghāna pasāda rūpa
  • Jivha dasaka (indriya mata): suddhāṭṭhakajivita rūpa + jivha pasāda rūpa
  • Bhava dasaka (bhava): suddhāṭṭhakajivita rūpa + itthi atau purisa rūpa (menentukan sifat lelaki/perempuan sebuah tubuh)

Lagi, harus dicatata bahwa jivita rūpa, itthi dan purisa rūpa, dan lima pasāda rūpa bukanlah “materi fisik”, tapi mode energi dalam putaran dan vibrasi suddhāṭṭhaka.

  • Ini dapat disamakan dengan orbit elektron berbeda yang memunculkan perbedaan jenis molekul di kimia.

Komponen-Komponen Gandhabba atau “Tubuh Batin”

10. Gandhabba terlahir dengan tujuh dasaka (cth. kammaja kāya) tersebut, dan seketika pikiran mulai menghasilkan citta (pikiran), yang adalah vipāka citta dan sebagian besar di bhavaṅga. Sehingga sekarang si gandhabba memiliki sebuah cittaja kāya juga. Catat bahwa cittaja kāya seluruhnya BATIN.

  • Hampir pada saat yang sama, kedua kammaja kāya dan cittaja kāya mulai memproduksi suddhāṭṭhaka lebih banyak yang membuat munculnya utuja kāya. Utuja kāya ini mirip dengan “aura” yang mengelilingi tubuh kita; faktanya, aura tersebut bagian dari utuja kāya kita (gandhabba). Beberapa orang mengaku bisa melihat “aura tubuh”; mereka dengan kekuatan abhiññā bisa melihatnya. Baca juga “Film Ghost 1990 – Penggambaran Baik Mengenai Konsep Gandhabba“.
  • Sehingga cara terbaik untuk menggambarkan sebuah gandhabba adalah untuk membayangkan seorang manusia hanya dengan “aura tubuh” (tanpa tubuh fisik). Karena kammaja kāya hanya terdiri dari beberapa suddhāṭṭhaka, dan cittaja kāya hanyalah pikiran, hanya sesuatu seperti “tubuh aura” yang dimiliki sebuah gandhabba.
  • Saat ini, tubuh halus milik gandhabba saya tumpang tindih dengan tubuh fisik saya. Seluruh bagian dari tubuh fisik saya berada di dalam tubuh halus gandhabba saya (yang adalah cetak biru untuk tubuh fisik saya).
  • Selama menunggu untuk sebuah tubuh fisik, gandhabba ini bisa menghirup bebauan ari buah-buahan, sayur-sayuran, dll. dan mendapatkan tubuh fisik yang halus (karaja kāya) juga. Lalu ia akan membesar menjadi ukuran lengkap seorang manusia. Tapi tentunya, ini hanyalah “tubuh energi” yang tidak bisa kita lihat.
  • Karena itu sebuah gandhabba yang masih bebas bisa memiliki empat jenis “tubuh”: kammaja kāya,  cittaja kāya, utuja kāya, dan karaja kāya.

Gandhabba Di Luar Tubuh Fisik

11. Gandhabba ini bisa melihat dan mendengar sampai jarak yang sangat jauh, dan bisa berkelana secara instan ke tujuan yang jauh. Penglihatan tidak membutuhkan cahaya, dan suara tidak membutuhkan getaran di udara. Ini sama dengan melihat dan mendengar dengan kekuatan abhiññā. Begitulah cara kemampuan abhiññā bisa melihat tembus dinding dan mendengar melalui jarak jauh; mereka memiliki kontrol atas gandhabba kāya atau manōmaya kāya.

  • Namun, karena dia hanya memiliki tubuh yang sangat halus (seperti udara), dia tidak bisa merasakan makanan atau menyentuh benda padat. Si gandhabba harus berada di dalam tubuh manusia yang padat untuk bisa menyentuh, merasakan, atau mencium. Karena itu dia harus memasuki sebuah zigot dalam rahim dan membangun sebuah tubuh fisik. Baca, “Penjelasan Buddhis Tentang Konsepsi, Aborsi, dan Kontrasepsi” dan “Kloning dan Gandhabba“.

12. Ketika sebuah gandhabba membangun tubuh fisik (di dalam rahim), ketujuh dasaka tersebut — masing-masing “berukuran sebuah suddhāṭṭhaka” — menentukan semua fungsi penting. Lebih lanjut, gandhabba memiliki cetak biru untuk tubuh fisik tersebut.

  • Tubuh fisik (karaja kāya) dari manusia bertumbuh tergantung dengan kāya dasaka dan bhava dasaka tetapi juga tergantung kualitas fisik ibu dan ayahnya (cth. warna mata dan kulit, dan juga ukuran)
  • Ketika di dalam sebuah tubuh fisik, sinyal eksternal yang datang ke tubuh fisik melalui mata, telinga, hidung, lihda, sentuhan, diubah di dalam otak menjadi bentuk yang bisa dirasakan oleh lima pasāda rūpa (mereka adalah lima dasaka dengan pasāda rūpa yang sesuai). Proses yang agak rumit ini dibahas di “Citta dan Cetasika – Bagaimana viññāṇa (Kesadaran) Muncul,” “Gandhabba (Manomaya Kaya) – Perkenalan,” adalah beberapa esai yang bisa dibaca.

Mengapa Beberapa Terlahir Dengan Tubuh Cacat?

13. Cetak biru dalam kammaja kāya sebuah gandhabba memiliki seluruh detail dari organ-organ fisik juga. Ketika utuja kāya terbentuk, hal itu memiliki cetak biru ini. Beberapa orang terlahir tanpa bagian tubuh karena kamma vipāka lampaunya diperhitungkan oleh kammaja kāya.

  • Beberapa terlahir dengan mata fisik, tetapi tanpa cakkhu pasāda dalam kammaja kāya, sehingga mereka tidak akan pernah bisa melihat; merekalah yang terlahir buta. Hal serupa, beberapa terlahir tuli, dan terkadang keduanya. Ini dikarenakan gandhabba di dalam mereka tidak memiliki cakkhu pasāda dan sōta pasāda.
  • Namun dalam beberapa kasus, gandhabba tersebut bisa memiliki cakkhu pasāda tapi saat lahir, saraf optik di dalam otak menjadi rusak. Dalam kasus seperti ini, ada kemungkinan untuk menyembuhkan penglihatannya.

Gandhabba Adalah Cetak Biru Untuk Tubuh Fisik

14. Faktanya, si gandhabba-lah yang mengontrol tubuh fisik yang kaku ini. Ada salinan karbon dari seluruh bagian tubuh fisik (termasuk sistem saraf) di dalam utuja kāya murni dari sebuah gandhabba.

  • Apa mekanisme yang digunakan sebuah gandhabba untuk mengontrol tubuh fisik yang kaku? Cara termudah untuk membayangkan ini adalah untuk mempertimbangkan hal berikut. Jika kita meletakkan debu besi di selembar kertas dan menggerakkan magnet di bawah kertasnya, kita bisa melihat partikel debu tersebut bergerak bersama magnetnya. Jika kita menggerakkan magnetnya membentuk lingkaran, partikel debu juga bergerak mengikutinya. Dalam hal yang sama, ketika gandhabba menggerakkan utuja kāya, tubuh fisik mengikuti gerakan tersebut.
  • Karena itu, apa yang gandhabba lakukan mirip dengan apa yang dilakukan magnet pada analogi di atas, tapi sedikit lebih rumit karena menggerakan bagian tubuh yang berat membutuhkan energi yang jauh lebih banyak. Di situlah sistem saraf fisik digunakan. Otak, dengan sinkronisasi bersama pikiran (hadaya vatthu), mengirim sinyal ke otot-otot untuk bergerak. Energi untuk menggerakan otot-otot tersebut datang dari makanan yang kita makan.
  • Kedua “sistem saraf magnetis” atau “sistem cahaya” dari gandhabba DAN sistem saraf fisik berdasarkan otak dibutuhkan untuk menggerakan tubuh fisik.

Dua Sistem Saraf

15. Sehingga, ada dua sistem saraf di dalam tubuh: satu adalah sistem saraf fisik yang diketahui oleh sains modern. Yang lain adalah sistem saraf halus (sistem cahaya) dari gandhabba.

  • Ketika mereka “tidak sinkron”, tubuh fisik kita mulai sakit. Bahkan pada manusia yang sehat sempurna, tidak mungkin untuk memelihara sebuah postur dalam waktu yang terlalu lama.
  • Kamma vipāka bisa menggeser sistem saraf (sistem cahaya) dari gandhabba menjauh dari tubuh fisik. Lalu otot tubuh perlu bergerak ke posisi seimbang yang baru, membuat kita merasa tidak nyaman atau bahkan sakit.
  • Kita akan membahas lebih banyak konsekuensi penting yang dialami saat meditasi pada tulisan-tulisan mendatang.

Tubuh Fisik Datang Dengan Akibat

16. Tubuh fisik dapat memberikan berbagai bentuk penderitaan lainnya juga. Bisa menumbuhkan penyakit seperti kanker di berbagai bagian tubuh; bagian tubuh bisa patah atau terluka.

  • Efek-efek yang telah kita bahas di atas mungkin menjadi alasan kalau kita sebagai manusia (dan binatang) memiliki mekanisme rumit yang melibatkan kelahiran kembali berulang dalam satu bhava menggunakan sebuah gandhabba dan beberapa tubuh fisik.
  • Para brahmā dan bahkan devā tidak menderita penyakit fisik; tubuh halus mereka juga bisa bertahan lebih lama, dan tidak butuh “diregenerasi” melalui mekanisme ini menggunakan perantara gandhabba.
  • Aspek penting lainnya adalah bahwa otak fisik kita memperlambat pembangkitan javana citta pada waktu tertentu. “Pemrosesan sinyal” di otak jauh lebih lambat dibandingkan pembangkitan kecepatan tinggi cittā di hadaya vatthu; baca, “Citta dan Cetasika – Bagaimana viññāṇa (Kesadaran) Muncul.”