Dua Dunia Kita: Materi dan Batin

14 Mei 2016; Revisi 30 September 2019; 26 Oktober 2019; 11 January 2020

Dunia Materi dan Dunia Tanpa Materi (Tak Terlihat)

1. “Dunia manusia” kita terbuat dari dua jenis dunia:

  • Dunia materi yang kita rasakan dengan lima indra fisik. Ini adalah dunia yang sangat kita kenal dengan makhluk hidup dan benda kaku. Dunia ini memiliki penglihatan, suara, bebauan, rasa, dan sentuhan tubuh. Sebagai contoh, kita merasakan penglihatan melalui “cakkhuñca paṭicca rūpe ca uppajjāti cakkhuviññāṇaṃ,” di mana cakkhuviññāṇa adalah “melihat”. Empat alat indra lainnya memiliki ekspresi yang mirip; baca, “Kontak Antara Āyatana Menuntun ke Vipāka Viññāna.”
  • Kita juga bisa mengingat ingatan kita dari masa lalu dan ekspektasi/harapan masa depan yang kita punya. Mereka berada di “dunia tanpa materi” yang kita rasakan dengan pikiran kita. Dunia tersebut juga disebut sebagai “nāma lōka.
  • Di sini kita menggunakan frasa “dunia tanpa materi” (nāma lōka) untuk mendeskripsikan dhammā tersebut yang hanya bisa dirasakan dengan pikiran MELALUI “manañca paṭicca dhamme ca uppajjāti manoviññāṇaṃ.” Dhammā tersebut termasuk konsep-konsep, memori, dll, sebagai tambahan kamma bīja dengan energi; baca di bawah.

2. Dua dunia tersebut ada bersama-sama. Hanya saja kita tidak bisa “merasakan secara langsung” dunia tanpa materi (tak terlihat) atau nāma lōka tersebut.

  • Ada banyak hal yang tidak bisa kita “lihat” tapi kita tahu ada. Sebagai contoh, kita tahu kalau sinyal radio dan televisi ada di sekitar kita, tapi kita tidak bisa “melihat” mereka. Kita perlu alat khusus seperti radio atau TV untuk mendeteksi sinyal tersebut.
  • Dhammā di dunia tanpa materi persis seperti itu. Ada organ (mana indriya) di otak yang mendeteksi dhammā tersebut. Para ilmuwan belum menyadari hal tersebut. Mereka pikir ingatan masa lalu, sebagai contoh, disimpan di otak. Sebenarnya tidak. Ingatan-ingatan tersebut berada di dunia tanpa materi yang ada bersama-sama dengan dunia materi. Seperti sebuah radio yang bisa mendeteksi gelombang radio tak terlihat tersebut, mana indriya mendeteksi ingatan-ingatan “tak terlihat” tersebut (dan juga kamma bija yang menghasilkan kamma vipāka).
  • Kamu mungkin bertanya bagaimana semua ingatan berbeda tersebut dan kamma bija tak terhitung dari kehidupan-kehidupan lampau kita disortir oleh mana indriya. Apakah kamu menyadari bahwa ada banyak sekali sinyal radio dan TV di kota-kota besar? Seperti sebuah radio atau TV yang bisa menyortir dan mendeteksi sinyal-sinyal tersebut, mana indriya bisa mendeteksi berbagai jenis dhammā.

Apa itu Dhammā?

3. Dhammā adalah apa yang kita pahami dengan pikiran dengan bantuan mana indriya di otak. Mereka termasuk ingatan-ingatan kita, termasuk dari kehidupan-kehidupan lampau. Hanya mereka yang memiliki kekuatan iddhi (super-normal) yang bisa mengingat ingatan dari kehidupan-kehidupan lampau. Namun, beberapa anak kecil bisa mengingat kehidupan lampau mereka; baca, “Bukti Kelahiran Kembali.”

  • Tapi dhammā (jamak) juga termasuk banyak kamma bija karena kamma masa lampau kita (bukan hanya dari kehidupan saat ini tapi dari kehidupan-kehidupan lampau.) Mereka bukan hanya ingatan tapi memiliki energi.
  • Dhammā dengan energi tersebut (cth. kamma bija) DIBUAT oleh pikiran kita. Secara spesifik, mereka terbuat di javana citta. Untuk analisis lebih dalam, baca “Asal Mula Materi – suddhāṭṭhaka.”
  • Kita tahu dari sains modern kalau materi dan energi saling terkait dari rumus terkenal Einstein: E = m X c^2, di mana E adalah energi, c adalah kecepatan cahaya, dan m adalah massa (jumlah materi).
  • Seperti biji tanaman yang bisa tumbuh dan menjadi pepohonan, kamma bija (benih kamma; bija berarti “benih”) bisa tumbuh di pikiran kita dan membawa kamma vipāka.

Rūpa Bisa Padat atau Murni (Halus)

4. Rūpa dalam Buddha Dhamma tidak bisa diterjemahkan ke bahasa Inggris sebagai “matter“, bahasa Indonesia sebagai “materi”, atau “benda padat”. Seperti yang telah kita bahas di atas, pikiran kita bisa membuat rūpa sangat murni yang disebut dhammā, dan juga bisa mendeteksi dhammā tersebut yang berada di dunia tanpa materi.

  • Tentunya kata “dhamma” juga merujuk kepada teori atau ajaran, seperti dalam Buddha Dhamma. Hanya ketika digunakan dalam bentuk jamak, dhammā merujuk ke rūpā murni tersebut yang dideteksi dengan pikiran (dengan bantuan mana indriya).
  • Sehingga, rūpā murni tersebut disebut “dhammā“. Mereka “anidassanan, appaṭighan“, yang berarti mereka tidak bisa dilihat atau dideteksi dengan lima indera fisik kita; baca, “Apa Itu Dhamma? – Sebuah Analisis Lebih Dalam“. Mereka termasuk “energi kamma” yang bisa menghasilkan vipāka kapanpun.

5. Lima indra fisik mendeteksi rūpa “padat” yang berada di dunia materi. Rūpa padat seperti itu DI ATAS “unit materi” terkecil dalam Buddha Dhamma, disebut suddhātthaka (sebuah suddhātthaka lebih kecil milyaran kali daripada sebuah atom pada sains saat ini). Dua puluh delapan (28) jenis rūpa terdiri dari “jenis rūpa yang padat” ini; baca, “Rūpa (Bentuk Materi)“.

  • Rūpa murni biasanya tidak disebut rūpa tapi disebut dhammā untuk membuat perbedaan. Dhammā  adalah rūpa sangat murni yang berada di atau lebih kecil dari tingkat suddhāṭṭhaka. Mereka adalah rūpa yang hanya dapat ditangkap oleh mana indriya atau dhammayatana: “anidassanan, appatighan, dhammayatana pariyapanna rūpan“. Untuk analisis mendalam, baca, “Apa itu Rūpa? – Dhammā Juga Rūpa!

Seluruh Tiga Puluh Satu Alam Berbagi Dunia Tanpa Materi

6. Dunia Tanpa Materi adalah seperti kain lembut yang menghubungkan seluruh makhluk hidup. Hanya saja kita tidak bisa “melihat” dunia tanpa materi, sedangkan kita bisa melihat hampir seluruh dunia materi. Seluruh 31 alam saling berbagi dunia tanpa materi.

  • Pada empat alam arūpa lōka, materi terbentuk dari suddhātthaka tidak ada (kecuali untuk hadaya vatthu milik para arūpa brahma). Para makhluk di arūpa lōka hanya mengalami dhammä. mereka tidak memiliki satupun lima indra fisik dan hanya memiliki pikiran (hadaya vatthu).
  • Sehingga “dunia materi” bisa diakses hanya oleh makhluk-makhluk hidup di kama lōka dan rūpa lōka.
  • Arūpa lōka berarti tidak ada “rūpa padat” (seperti mereka di kama lōka dan rūpa lōka), tapi tentunya dhammä ada di sana (para makhluk arūpa bisa berpikir dan mengingat kejadian masa lalu seperti kita).
  • Terlebih, bahkan di rūpa lōka hanya materi murni dan halus yang ada. Tidak ada “benda padat” seperti pepohonan. Jika kita mengunjungi rūpa lōka, kita mungkin tidak akan melihat apapun.

Dunia Dalam Istilah Dhātu

7. Mari kita bahas secara singkat poin-poin utama yang digambarkan bagan di atas. Semua di dunia ini terbuat dari 6 dhatu: patavi, apo, thejo, vayo, akāsa, dan viññāna. Lima dari mereka merupakan “dunia materi” dan viññāna dhātu mewakili “dunia tanpa materi”.

  • Omong-omong, akāsa bukan hanya “ruang kosong”. Kita akan membahas ini nanti.
  • Bahan pembangun dasar untuk dunia materi adalah suddhātthaka. Belum lama ini, para ilmuwan pikir atom adalah bahan pembangun, tapi sekarang mereka bilang bahwa partikel dasar tersebut juga memiliki struktur. Sebuah suddhātthaka jauh lebih murni daripada partikel dasar apapun.
  • Di dunia tanpa materi (atau bidang batin), ada pendahulu batin ke suddhātthaka. Mereka adalah dhammā, gati, dan bhava. Berdasarkan gati kita, kita membuat suddhātthaka di javana citta kita; baca, “Asal Mula Materi – Suddhātthaka“.

Lima Sensasi Indra Mendeteksi Rūpa Padat dan Mana Indriya Mendeteksi Dhammā

8. Kita memiliki lima sensasi indrawi untuk mengalami dunia materi: mata, telinga, lidah, hidung, dan tubuh. Mereka memberikan input indera ke lima pasada rūpa yang bertempat di gandhabba atau manōmaya kāya, yang ada berbarengan dengan tubuh fisik kita; baca, “Gandhabba (Manomaya Kaya)“. Omong-omong, gandhabba bukanlah konsep Mahayana: “Kondisi Gandhabba – Bukti dari Tipitaka“.

  • Di sisi batin, kita memiliki mana indriya di otak untuk merasakan dunia tanpa materi; baca, “Otak – Antarmuka Antara Pikiran dan Tubuh“.
  • Berdasarkan kontak lima sensasi inderawi tersebut dengan dunia materi dan kontak mana indriya dengan dunia tanpa materi, pikiran kita muncul di hadaya vatthu (juga berlokasi di dalam gandhabba atau manōmaya kāya); baca, “Apakah Obyek (rūpa) Apapun Bertahan Hanya 17 Momen Pemikiran?”.
  • Itulah penjelasan singkat untuk bagan di atas. Seseorang bisa mendapatkan informasi lebih banyak dengan menekan tautan yang tersedia dan dengan menggunakan kotak pencarian. Jangan khawatir jika ini semua belum jelas sepenuhnya.

9. Sehingga, penting untuk mengerti bahwa ada dua jenis rūpa di dunia manusia kita:

  • Materi berwujud di dunia materi yang kita alami dengan bantuan lima sensasi fisik.
  • Lalu ada yang tidak terlihat (anidassana), rūpa tak berwujud (appaṭigha) seperti pemikiran, persepsi, rencana, ingatan. Mereka adalah dhammā, mano rūpa, gati, bhava, nāma gotta. Mana indriya di otak yang membantu mendeteksi rūpa halus.
  • Kedua jenis rūpa pada akhirnya dideteksi dan dialami oleh pikiran (hadaya vatthu). Hadaya vatthu tidak berlokasi di otak tetapi di tubuh gandhabba dan tumpang tindih dengan daerah jantung fisik di tubuh fisik; baca, “Gandhabba (Manomaya Kaya)“.
  • Memahami “gambaran lebih luas” ini mungkin butuh usaha sedikit lebih banyak. Dunia ini rumit dan kebanyakan dari kerumitan tersebut berhubungan dengan pikiran yang tidak ada di otak tetapi di tubuh murni (manōmaya kāya) gandhabba.

Dunia Mimpi

10. Bagian lain dari dunia tanpa materi kita adalah dunia mimpi.

  • Ketika kita bermimpi, kita “melihat” orang dan obyek materi. Tapi kita tidak bisa mengatakan di mana lokasinya. Mereka tidak memiliki lokasi fisik; mereka berada di bidang tanpa materi. Dan kita tidak “melihat” mimpi itu dengan mata kita, tapi dengan mana indriya.
  • Ketika kita tidur, kelima sensasi fisik kita tidak berfungsi. Tapi mana indriya di otak berfungsi. Para ilmuwan telah mengonfirmasi bahwa otak kita aktif ketika tidur.
  • Yang dialami di arūpa lōka dikatakan agak mirip dengan melihat mimpi. Tentu, seseorang memiliki kemampuan untuk merenung di arūpa lōka. Namun, dia tidak mampu membaca atau mendengar. Karena itu, seseorang tidak bisa mempelajari Tilakkhana (anicca, dukkha, anatta) dari Orang Mulia. Sehingga, seseorang tidak bisa mencapai tingkat Sotāpanna dari Nibbāna di arūpa lōka. Tapi jika seseorang telah mencapai tingkat Sotāpanna sebelum terlahir di sana, ia akan bisa bermeditasi dan mencapai tingkat yang lebih tinggi dari Nibbāna.

Rūpa Padat Untuk Kontak Indra “Kasar”

11. Ada cara lain untuk melihat pengalaman sensasi kita. Makhluk hidup melekat dengan dunia ini karena mereka berharap untuk mendapatkan kenikmatan dari dunia ini. Kenikmatan-kenikmatan ini didapatkan dengan membuat kontak dengan rūpa. Rūpa tersebut datang dalam beberapa kepadatan.

  • Kenikmatan tubuh dicapai dengan kontak terkuat (sentuhan). Lalu rasa, penciuman, pandangan, suara, menjadi semakin kurang padat dalam urutan ini.
  • Kontak terhalus adalah melalui dhamma. Inilah dunia tanpa materi kita; kita berpikir, merencanakan masa depan, mengingat kejadian masa lalu, dll: Kita selalu melakukan ini, dan kita bisa melakukannya di mana saja. Cara lain untuk mengatakan hal ini adalah kita berinteraksi di mano, vaci, dan kāya saṅkhāra.
  • Sehingga, kontak dengan mana indriya dengan dhammā di dalam mano lōka membentuk porsi signifikan dalam pengalaman sensasi. Ini melibatkan mano rūpa (dhamma, gathi, bhava, nāma gotta) di bidang pikiran atau dunia tanpa materi.

12. Cara makhluk hidup mengalami dan menikmati (atau menderita) kontak sensasi berbeda di tiga kategori utama eksistensi: kāma lōka, rūpa lōka, dan arūpa lōka.

  • Kebanyakan kontak sensasi “kasar” atau “ōlārika” tersedia hanya di kāma lōka. Bahkan di sini, yang terkasar adalah di niraya (alam paling rendah) dan secara umum semakin berkurang dalam “kekasaran” saat semakin naik ke alam manusia, alam kelima. Enam alam deva “lebih halus” secara signifikan dibandingkan alam manusia; tubuh deva jauh lebih murni (seperti gandhabba) dan manusia biasa tidak bisa melihatnya.
  • Kontak sensasi terkasar (sentuhan, rasa, dan penciuman) tidak hadir di rūpa lōka. Hanya kontak pandangan dan visual yang tersedia untuk para Brahmā di 16 alam rūpa lōka, dengan tambahan pikiran.
  • Para arūpa Brahmā di 4 alam arūpa lōka hanya memiliki pikiran, yang mereka alami hanya rūpa paling murni (dhamma) di bawah tingkat suddhāttaka.
  • Para Brahmā di rūpa dan arūpa lōka telah melihat bahayanya “kāma assāda” yang ada di kāma lōka. Mereka telah menikmati kenikmatan jhāna dan lebih menghargai itu daripada kenikmatan sensasi “kasar”. Mereka sudah melepas kehausan akan kenikmatan sensasi “kasar” yang tersedia melalui sentuhan, rasa, dan penciuman.

Kehausan Lebih Kuat Cocok Dengan “Kontak Indra Lebih Padat”

13. Kita bisa mendapatkan gambaran mengenai kontak sensasi “lembut” dan “kasar” dengan contoh sebagai berikut. Misalnya seseorang (seorang nenek contoh yang bagus) memperhatikan cucunya tertawa dan berdansa menikmati waktunya.

  • Pada awalnya dia mungkin memperhatikan dari jauh dan menikmati pandangan bayi kecilnya bersenang-senang.
  • Lalu dia menghampiri dan memeluk bayi tersebut. Tidak cukup hanya melihatnya dari jauh; dia perlu menyentuh bayi tersebut.
  • Jika bayinya tetap bergoyang dan bersenang-senang, sang nenek mungkin mulai menciumi bayi tersebut. Pada beberapa kasus, sang nenek mungkin mulai mengencangkan pelukannya tanpa sadar, dan mungkin membuat bayinya berteriak kesakitan.
  • Skenario terakhir ini adalah contoh bagaimana keinginan untuk kenikmatan sensasi ekstrim malah bisa menuntun ke penderitaan. Tentu, keinginan untuk kenikmatan sensasi olārika yang menuntun ke penderitaan tertinggi.
  • Tapi penderitaan juga ada bahkan di alam rūpa dan arūpa. Bahkan di tingkat arūpa Brahmā — di mana kemelekatan hanya di kenikmatan terhalus dari rūpa (dhamma) — ada penderitaan yang tak terhindar pada akhirnya ketika mereka harus meninggalkan eksistensi tersebut dan kembali turun ke alam manusia.

Lebih Sedikit Penderitaan di Alam-Alam “Lebih Tidak Padat”

14. Oleh karena itu, tingkat penderitaan yang tak terhindar jalan beriringan dengan “kepadatan” dari kontak sensasi.

  • Rasa nyeri, sakit, dan penyakit hanya ada di 5 alam terendah (termasuk alam manusia) di mana ada tubuh fisik padat. Di alam-alam lebih tinggi, hal tersebut tidak ada. Inilah harga yang bahkan harus dibayar manusia untuk bisa mengalami “kenikmatan kontak kasar” seperti pijit tubuh, seks, makan, dan menghirup.
  • Kita sebagai manusia di kāma lōka suka menikmati kenikmatan sensasi intim dan “kasar”. Sebagai tambahan, kebanyakan waktu, hanya menikmati kenikmatan sensasi saja tidak cukup; kita suka “memiliki” hal-hal yang menyediakan kenikmatan sensasi. Sebagai contoh, orang-orang suka “memiliki” rumah liburan; tidak cukup hanya menyewa rumah di lokasi itu saat berkunjung.
  • Kecenderungan untuk “memiliki” hal-hal menyenangkan juga berkurang di alam-alam lebih tinggi. Hanya ada sedikit benda-benda materi untuk “dimiliki” di brahma lōka, terutama di alam arūpa Brahmā.

Hubungan Dengan Magga Phala

15. Ketika seseorang mencapai tingkatan Nibbāna lebih tinggi, kehausan untuk kenikmatan sensasi “kasar” dan juga keinginan untuk “memiliki” benda-benda semakin berkurang.

  • Seorang Sotāpanna hanya pernah “melihat” bahaya dari kāma assāda; dia masih menikmatinya. Sehingga, dia masih akan terlahir di alam-alam kāma lōka, tapi tidak di apāyā.
  • Seorang Sakadāgami mungkin masih menikmati “kāma assāda“, tapi tidak punya keinginan untuk “memiliki” benda-benda yang menyediakan kenikmatan tersebut. Cukup untuk hidup di sebuah rumah nyaman yang disewa, dan tidak ada keinginan untuk memiliki rumah yang bagus. Faktanya, seorang Sakadāgāmi bisa secara jelas melihat beban dalam “memiliki sesuatu”. Seorang Sakadāgāmi hanya akan terlahir di alam-alam lebih tinggi dari alam manusia.
  • Seorang Anāgāmi tidak memiliki minat khusus dalam menikmati kāma assāda. Dia makan hanya untuk mengatasi kelaparan (tapi akan makan makanan enak ketika ditawarkan). Seorang Anāgāmi tidak akan memberikan prioritas pada kenikmatan sensasi apapun melebihi “kenikmatan Dhamma” (tentunya Dhamma di sini maksudnya Buddha Dhamma). Dia akan terlahir di alam-alam rūpa khusus untuk para Anāgāmi saat meninggal, dan tidak akan terlahir kembali di kāma lōka.
  • Seorang Arahant tidak memiliki keinginan bahkan untuk kenikmatan jhana, dan tidak akan terlahir di 31 alam manapun saat meninggal.

16. Setiap sistem planet yang dapat dihuni (cakkavāla) memiliki 31 alam eksistensi, walaupun kita hanya bisa melihat dua alam (manusia dan binatang) di dunia kita.

Hal ini dibahas berikutnya: “31 Alam Yang Terkahir Dengan Bumi”