Pelimpahan Jasa Kebajikan (Pattidāna) – Bagaimana Itu Terjadi?

Direvisi 7 Juli 2018; 16 August 2019; 12 Februari 2020

Perkenalan – Energi Batin Tak Terlihat

1. Bahkan beberapa Buddhis skeptis bahwa kebajikan bisa “ditransfer” ke makhluk lain: hal itu tidak terdengar “ilmiah”. Namun, Buddha Dhamma sangat jauh di depan dari sains, dan ini adalah contoh lain. Walaupun kosakatanya berbeda, mekanisme dari “transfer energi” (energi batin) juga dijelaskan di dalam Dhamma.

  • Memungkinkan untuk mentransfer kebajikan sebagai perbuatan bajik, dan juga banyak versi lain dari “energi batin.”
  • Pemikiran dasarnya bisa dibayangkan seperti berikut. Misalkan seseorang memiliki lampu minyak yang menyala, dan banyak orang lain memiliki lampu minyak yang tidak menyala. Bukankah lebih baik untuk memperbolehkan orang lain untuk menyalakan lampu mereka dengan lampu kita?
  • Tentunya tidak mungkin “menciptakan” banyak lampu minyak menyala hanya dengan satu. Tapi sangat mungkin untuk menyalakan ribuan lampu lain dengan berbagi apinya dari satu lampu minyak. Dalam cara yang sama, yang menerima harus memiliki bahan-bahan yang penting untuk mendapatkan manfaat, seperti yang dijelaskan di bawah. Tapi karena semua lampu minyak itu tidak akan berguna tanpa suatu cara untuk menyalakan mereka, orang yang menyediakan penerangan sedang melakukan pelayanan yang sangat baik.
  • Seseorang “melimpahkan jasa kebajikan” sedang melakukan pattidāna atau “kondisi-kondisi” bagi kamma bija (atau bīja) baik untuk bertumbuh. Si penerima harus memiliki kamma bīja baik atau “akar penyebab” dan menerima pattidāna tersebut secara ikhlas, yang disebut “puñña anumōdanā” yang bersajak sebagai “puññānumōdanā.”

Apa Itu Anumōdanā?

2. Anumōdanā berarti pikiran penerima menjadi bahagia dengan kebajikan yang diterimanya (“anu” + “ōdanā,” yang bersajak sebagai “anumōdanā”). Si pemberi memberikan (“dāna“) “paccayā” atau penyebab-penyebab tambahan. (Kata umumnya adalah “pratyaya” tapi itu adalah kata Sansekerta yang salah; kata Pāli yang benar adalah paccayā). Adalah paccayā yang mewakili “patti” dalam “pattidāna.”

  • Selain dengan memberikan langsung (baca di bawah), si pemberi tidak bisa membuat si penerima “menerima apa yang diniatkan” kecuali yang menerimanya memiliki pola pikir yang selaras dengan menerima.
  • Si penerimalah yang melakukan “puñña anumōdanā”, yaitu menerima secara ikhlas pattidāna dari si pemberi dan menjadi bahagia dengan kebajikan yang diterima. Itu juga disebut “pattānumōdanā.”

Memberi Juga Bisa Dengan Batin – Dāna dan Pattidāna

3. Memberi dan menerima bisa dilakukan dengan banyak cara:

  • Cara langsung memberi/menerima adalah ketika seseorang memberikan uang atau benda materi. Ini mengurangi dari kepemilikan pemberi dan ditambahkan ke penerima: transfer selesai.
  • Ketika seorang guru mengajar di kelas penuh dengan anak-anak, dia memberikan instruksi dengan cara yang sama kepada semua anak. Tapi seberapa banyak seorang anak “menerima” atau memahami tergantung dari kemampuan pribadi anak tersebut untuk menerima.
  • Sebuah stasiun radio/televisi menyiarkan sebuah program. Tapi penerimaan programnya oleh sebuah radio/TV tergantung dari kualitas alat penerimanya. Terlebih lagi, alatnya harus “disetel” ke stasiun yang benar.
  • Pelimpahan ini bisa terjadi secara instan atau tanpa jeda waktu, karena energi batin berada di “nāma lōka” dan bisa diakses kapanpun; baca, “Ingatan, Otak, Pikiran, Nama Loka, Kamma Bhava, Kamma Vipaka,” “Apa Itu Dhamma? – Analisis Lebih Dalam“, dan “Dua Dunia Kita: Materi dan Batin.”

4. Sehingga, hanya dalam “pemberian langsung”, jumlah yang diterima sama dengan yang diberikan. Jumlah yang diterima di kedua “pemberian tidak langsung” lainnya tergantung dengan si penerima. Sebuah mekanisme yang sama bekerja ketika seseorang melakukan perbuatan bajik dan “pelimpahan jasa” ke orang lain yang mungkin berada sangat jauh.

  • Semua niat memiliki energi kamma. Kamu mungkin ingat apa yang dikatakan sang Buddha, “Cetanā aham bhikkave kammaṃ vadāmi,” atau “Para bhikkhu, saya mengatakan bahwa niat adalah kamma.” Dan kamma adalah potensi energi vital untuk semua di dunia ini.
  • Banyak orang sangat meremehkan kekuatan dari pikiran manusia. Mereka yang telah mengalami paling tidak anariya jhāna bisa merasakan sedikit kekuatan dari pikiran; baca, “Kekuatan Pikiran Manusia – Perkenalan” dan dua tulisan lanjutannya.
  • Pemberian langsung adalah “dāna“; pemberian tidak langsung adalah “pattidāna“. Keduanya adalah dua dari 10 perbuatan bajik (puñña kamma); baca, “Punna Kamma – Dāna, Sīla, Bhāvanā.”

Pelimpahan Jasa Kebajikan – Pattidāna

5. Satu mekanisme seperti itu adalah anantara-samanantara paccayā; baca, “Annantara dan Samanantara Paccaya.” Ini adalah salah satu hukum universal yang mengatur bagaimana kamma dan kamma vipāka beroperasi (kamma niyama). Banyak orang menyebut “niyama” sebagai “niyāma,” tapi “niyama” adalah kata Pāli atau Sinhala untuk “prinsip.”

  • Sehingga kamma niyama adalah hukum universal dari kamma (seperti hukum gravitasi).

6. Katakan seseorang “melimpahkan jasa” secara tulus dengan mengatakan “Semoga begitu dan begitu menerima kebajikan dari perbuatan baik yang telah saya lakukan.” Seseorang bisa melakukan Metta bhāvana dengan mengatakan, “Semoga semua makhluk terbebas dari penderitaan di apāya” atau versi sejenisnya. Dalam kedua kasus itu, seseorang MENYIARKAN niat seseorang.

  • Namun, hanya karena seseorang melakukan “pemberian” seperti ini, penerima yang dituju belum tentu menerima manfaatnya KECUALI si penerima memiliki pola pikir yang sepadan. Ini seperti pada radio/TV, yang mana alat penerimanya harus diatur ke “frekuensi yang benar” untuk menerima sinyalnya.
  • Hal ini dijelaskan di tulisan, “Anantara dan Samanantara Paccaya.” Jangan berkecil hati dengan kata-kata Pāli. Terkadang, seperti dalam Paṭicca Samuppāda, lebih baik menggunakan kata-kata Pāli dan berusaha mengerti artinya.

7. Pelimpahan jasa kebajikan ini efisien ketika pemberi dan penerima sedang bersama, dan masing-masing sadar akan niat lawannya. Sebagai contoh, di negara-negara Asia, adalah adat mereka untuk melimpahkan jasa kebajikan kepada keluarga yang telah meninggal. Berdana kepada Saṅgha dan pattidāna dipersembahkan kepada keluarga yang telah meninggal termasuk dalam kategori ini.

  • Orang yang sudah meninggal bisa menerima kebajikan jika mereka dalam keadaan bisa menerima kebajikan tersebut, sebagai contoh, jika dalam kondisi gandhabba.
  • Tapi jika yang meninggal telah terlahir kembali sebagai binatang atau manusia, maka dia tidak bisa menerima manfaat sepenuhnya, walaupun bisa bermanfaat sampai tahap tertentu.

Dhamma Dāna Adalah Pemberian Tertinggi

8. Memungkinkan untuk “memberi Dhamma” atau “memberi kusala” juga. Sang Buddha berkata, “sabba dānaṃ Dhamma dānaṃ jināti” atau “dari seluruh pemberian, pemberian Dhamma adalah yang tertinggi.”

  • Ketika sang Buddha memberikan sebuah ceramah, mereka yang mendengar “menerima” Dhamma atau kusala dalam berbagai tingkat. Beberapa menjadi Arahat, dan beberapa mencapai tingkat Sõtapanna, dan lain-lain saat ceramah itu berjalan. Namun beberapa tidak mencapai tingkat apapun tapi mungkin mengumpulkan manfaat atau kusala. Kusala (“ku” atau “kunu” atau “kotor” +”sala” atau “menghapus”, sehingga menghilangkan pemikiran-pemikiran tercemar dari pikiran). Itu berarti mendapatkan kebijaksanaan, tidak serakah, tiada kebencian DAN membuang keserakahan, kebencian, dan delusi.
  • Saat ceramah seperti itu, seseorang terutama mengembangkan kebijaksanaan. Itu pada akhirnya menghasilkan terbuangnya keserakahan dan kebencian.

Pentingnya Kondisi Pikiran

9. Berapa banyak kebajikan yang diterima seseorang tergantung dari kondisi pikiran orang tersebut. Tergantung juga pada tingkat intelektual orang tersebut. Tapi tidak mungkin untuk menghitung tingkat intelektual menggunakan standar “pengetahuan buku” modern . Hal ini tidak berhubungan langsung dengan edukasi formal seseorang. Lebih mudah untuk memberikan beberapa contoh.

  • Y.M. Ananda sangat terpelajar, seorang mantan pangeran, dan memiliki daya ingat yang fantastis. Dia memiliki seluruh Sutta Pitaka di ingatannya. Dan dia bersama dengan sang Buddha bertahun-tahun tetapi mencapai tingkat Arahat hanya saat setelah sang Buddha Parinibbāna (meninggal).
  • Sunīta berasal dari kasta rendah dan sedang membawa beberapa ember berisi kotoran ketika sang Buddha menemuinya. Dengan kekuatan luar biasanya, sang Buddha melihat bahwa Sunīta mampu untuk memahami Dhamma dan meminta Sunīta untuk menjadi seorang bhikkhu. Y.M. Sunita menjadi seorang Arahat dalam waktu tujuh hari.

10. Seseorang mungkin reseptif untuk “menerima Dhamma” ketika pikirannya dalam kondisi tenang. Tapi orang yang sama mungkin tidak bisa memahami apapun ketika pikirannya bergembira atau teralihkan. Hal ini sama dengan mengatakan bahwa lima rintangan adalah aktif; baca, “Kunci Menenangkan Pikiran – Lima Rintangan.” Sehingga, PENTING untuk memiliki pola pikir yang benar ketika mempelajari Dhamma, apakah itu dengan mendengar ataupun membaca.

  • Sehingga, cobalah membaca tulisan-tulisan ini pada waktu tenang, ketika pikiran lebih reseptif, dan TIDAK pada waktu istirahat di tengah-tengah bekerja ketika pikiran sedang sibuk atau tidak tenang.
  • Di negara-negara Asia, ada alasan kuat untuk pergi ke vihara. Di vihara, orang-orang memberikan persembahan bunga kepada Buddha atau pohon Bodhi. Aktivitas seperti ini membuat pikiran masuk ke kondisi yang tenang dan damai, cocok untuk mendengarkan ceramah Dhamma setelahnya; baca, “Pelafalan Buddhis” dan “Tisarana Vandana dan Efeknya Terhadap Gati Seseorang.”

Kedua Anantara dan Samanantara Perlu Dioptimalkan

11. Sehingga, kedua anantara dan samanantara perlu dioptimalkan untuk membuat semua aktivitas ini efisien.

  • Tentunya jika seseorang tidak mempelajari Dhamma sebenarnya, anantara tidak tepat, dan ia sedang membuang-buang waktunya.
  • Di sisi lain, bahkan dengan penjelasan Dhamma yang sangat baik, pikiran si penerima perlu terbuka untuk mendapatkan manfaat sepenuhnya. Dengan kata lain, samanantara juga perlu bagus.

12. Contoh berikut ini bisa membantu dalam mengklarifikasi konsep ini: Memiliki “kamma bija baik” adalah seperti memiliki “bibit bagus.” Misalkan orang X memiliki bibit berpotensi tapi tidak memiliki air dan nutrisi agar bibit tersebut bisa bertunas dan bertumbuh. Sekarang, jika orang Y bisa menyediakan X dengan air dan nutrisi, X bisa menanam bibit tersebut dan membuat mereka bertunas dan bertumbuh.

  • Seperti itu, beberapa makhluk memiliki “bibit kamma baik,” tetapi tidak memiliki kondisi-kondisi yang diperlukan untuk menumbuhkan kamma vipāka baik yang sesuai. Ketika seseorang melakukan pattidāna, itu seperti mendonasikan air dan nutrisi dalam perumpamaan tersebut.

13. Sebuah bibit adalah anantara atau penyebab (kamma bīja), dan yang menerima harus memilikinya. Namun, kecuali lahan tersebut lembab, memiliki nutrisi, dan mendapatkan paparan sinar matahari, bibitnya tidak bisa tumbuh, yaitu samanantara (atau kondisi yang cocok) juga harus ada.

  • Sehingga, si penerima bisa menerima kondisi-kondisi tersebut dari si pengirim, dan mengambil kamma bīja baik yang sudah ada tersebut untuk mendapatkan vipāka baik mereka.
  • Hanya ketika anantara dan samanantara telah dioptimalkan dan cocok dengan hasil penuh manfaat tersebut, yaitu transfer optimal terjadi. Bagi mereka yang akrab dengan “efek resonansi” dalam fisika, ini mirip dengan itu. Hanya ketika energi foton cocok dengan celah energi dari sebuah atom, barulah penyerapan foton tersebut oleh atom menjadi optimal.

Berbagai Jenis Anumōdanā

14. Ada sebuah jenis “anumōdanā” yang terjadi di kehidupan sehari-hari juga. Katakan X memulai sebuah proyek untuk memberikan mereka yang kelaparan. Banyak orang miskin mendapatkan manfaat dari itu. Ketika Y melihatnya, Y mungkin menjadi gembira melihat mereka yang lapar mendapatkan makan, dan mungkin mengucapkan terima kasih kepada X karena telah melakukannya. Kegembiraan hati ini, bahkan jika Y tidak berkontribusi, terhitung sebagai “kebajikan”; hal tersebut menjadi sebuah kamma vipāka baik bagi Y. Itu tidak mengambil kebajikan milik X.

  • Tidak mungkin untuk sesuatu muncul dari ketiadaan. Jadi, dari mana manfaat seperti itu datang? Itu datang dari energi batin milik Y, yang menjadi gembira saat melihat perbuatan seperti itu. Itulah bagian dari energi (javana) batin yang dimiliki seorang manusia; baca, “Kekuatan Pikiran Manusia – Perkenalan.”
  • Hal tersebut juga berlaku untuk perbuatan tidak bermoral. Katakan X sedang memukuli Y. Orang Z mungkin senang melihatnya dan mungkin mendukung X untuk memukuli Y. Sekarang, katakan Y mati karena pemukulan tersebut. Maka bukan hanya X tapi Z juga mendapatkan kamma vipāka buruk atas perbuatan tidak bermoral tersebut.
  • Di dalam masyarakat kita prinsip yang sama tersebut juga berlaku. Jika polisi yang sedang menyelidiki kematian Y memiliki bukti kalau Z mendukung pembunuhan tersebut, maka Z dan juga X bisa dihukum.
  • Sehingga perasaan kita (baik atau buruk) memiliki peran yang penting dalam mengumpulkan kamma vipāka baik dan buruk.