Kekuatan Pikiran Manusia – Perkenalan

Revisi 27 Agustus 2018

1. Kebanyakan orang tahu tentang Buddha Gotama sebagai seorang manusia yang sangat cerdas dan penuh welas asih. Dalam “Dhamma dan Sains – Perkenalan“, saya telah menunjukkan persamaan dan perbedaan antara seorang ilmuwan dan seorang Buddha. Di sini saya ingin membahas lebih detail kompleksitas otak manusia yang tidak bisa dimengerti, dan bagaimana seorang Buddha mencapai kinerja puncak dari entitas rumit tersebut.

  • Seperti yang saya tunjukkan di “Teori Ketidaklengkapan Godel“, pikiran seorang manusia biasa bekerja di dalam ranah indra manusia biasa, karena itu pada dasarnya tidak mampun menyediakan teori lengkap tentang dunia kita; tapi pikiran seorang Buddha bisa melampaui pengalaman indra kita dan melihat keseluruhan eksistensi.
  • Di sini saya menunjukkan, dalam cara yang sistematis dengan tulisan-tulisan berlanjut, kemajuan pikiran manusia ke tingkat yang lebih tinggi tercapai dengan memurnikan pikiran (tidak hanya dengan belajar), dan mengapa seorang Buddha berada di puncak teratas. Pada akhir seri ini kamu bisa melihat mengapa tidak ada manusia lain, tidak peduli seberapa pintar, yang bisa sedikitpun mendekati pikiran seorang Buddha.

2. Dalam “Teori Manunggal Agung Dhamma“, kita telah membahas 31 alam eksistensi seperti yang dijelaskan oleh Buddha.

  • Dari semuanya, alam manusia berada di tingkat kelima (dan dasar pengetahuan kita terbatas hanya pada pengalaman indrawi kita di sini, dan Teori Ketidaklengkapan Godel berlaku terhadap teori apapun yang turun dari situ). Ada empat alam di bawah alam manusia, DAN 26 alam di atasnya.
  • Dari 31 alam, kita hanya bisa melihat alam manusia dan alam binatang (yang adalah salah satu empat alam rendah atau apāyā). Tapi kita bisa mengakses pemikiran yang dinikmati oleh para makhluk di alam lebih tinggi, DAN kita bisa mengakses cittā transendental (lōkuttara) juga. Tolong tidak terlalu banyak mementingkan jumlah cittā di setiap alam untuk saat ini. Harap bersabar karena saya perlu menjelaskan “garis besarnya” dulu.
  • Ketika kita berlanjut secara sistematis dalam beberapa tulisan, kamu akan melihat berbagai hubungan ke konsep-konsep lain yang telah dibahas di bagian lain situs ini, dan akhirnya semuanya tersambung. Inilah mengapa saya terus mengatakan bahwa ini adalah pandangan dunia yang lengkap dan konsistensi-mandiri dalam skala yang tak terbayangkan oleh pikiran manusia biasa (tidak murni).

3. Jenis-jenis pemikiran (cittā) yang bisa dialami dalam seluruh eksistensi (31 alam) adalah 89 (atau 121 tergantung dari skema); baca, “89 (atau 121) Jenis Citta“. Dalam tiga lōka (atau bidang) utama yaitu kāmalōka, rupalōka, dan arupalōka, jenis-jenis cittā berbeda adalah kejadian yang umum. Sementara kebanyakan dari 89 cittā bisa muncul di seluruh tiga lōka, umumnya sebagian dari cittā bekerja kebanyakan di alam tertentu.

  • Sebagai contoh, di kāmalōka, hanya 54 cittā yang kebanyakan dialami. Kāmalōka terdiri dari sebelas alam di bawah, dengan cangkang keenam sampai kesebelas mewakilkan alam para deva. Para makhluk di 11 alam ini memiliki seluruh enam indra dasar, dan di alam deva, kenikmatan indrawi lebih tinggi daripada di alam manusia.

4. Dari seluruh 89 jenis pemikiran, hanya 12 yang tidak bermoral atau akusala cittā, dan mereka hanya dialami di kāmalōka; baca, “Akusala Citta dan Akusala Vipaka Citta“.

  • Di 20 alam yang lebih tinggi termasuk rupalōka dan arupalōka, hanya jhāna cittā yang kebanyakan hadir, dan akusala cittā umumnya tidak muncul.
  • Jadi, seperti yang bisa dibayangkan, para makhluk di alam-alam lebih rendah lebih menerima cittā tidak bermoral dan dengan frekuensi yang lebih tinggi. Alam manusia sekitar di tengah-tengah, dengan cittā moral dan tidak bermoral.
  • Kebanyakan vipāka cittā muncul di empat alam terendah; pada dasarnya mereka “membayar untuk kamma sebelumnya”. Dikatakan kalau para makhluk di alam terendah, niraya (neraka), pada dasarnya mengalami dua cittā tidak bermoral berdasarkan kebencian dikarenakan tingginya tingkat penderitaan di sana.

5. Alam manusia unik dalam artian pikiran manusia bisa mengakses tidak hanya cittā di rupa dan arupa lōka, tapi juga delapan jenis cittā yang melampaui 31 alam.
Cittā ini adalah empat jalan (magga) cittā untuk empat tingkat Nibbāna (Sōtapanna, Sakadāgāmi, Anāgāmi, Arahant), dan cittā (phala) resultan yang berhubungan. Sehingga seluruh 89 jenis cittā memungkinkan untuk seorang manusia.

  • Para makhluk di alam-alam lebih tinggi juga bisa mencapai 8 magga/phala cittā, tapi biasanya tidak mengalami cittā yang khas untuk alam-alam lebih rendah.
  • Lebih lanjut lagi, cittā paling berpotensi adalah yang dengan kekuatan javana (dorongan) di “mahā kusala cittā“. Mereka dapat diakses kebanyakan oleh manusia dan para makhluk di alam-alam lebih tinggi; baca, “Javana Sebuah Citta – Akar Dari Kekuatan Batin“. Tulisan-tulisan lebih lanjut akan ditulis nanti.
  • Inilah dasar dari kekuatan pikiran manusia. Sangat mungkin bagi seorang manusia untuk mencapai pola pikir suatu makhluk di alam terendah (niraya) dan sangat mungkin juga untuk mencapai pola pikir setinggi seorang Buddha.

6. Cittā di rupa lōka dan arupa lōka mudah untuk dikategorisasi berdasarkan kondisi jhāna-nya. Ini adalah kondisi jhāna sama dengan yang dicapai oleh manusia melalui meditasi.

  • Seorang manusia bisa mencapai semua delapan kondisi jhāna (empat lebih rendah berhubungan dengan rupa lōka dan empat lebih tinggi berhubungan dengan arupa lōka.
  • Omong-omong, Buddha tidak pernah menyebut kondisi arupāvacara sebagai jhāna. Justru mereka disebut di dalam suttā dengan namanya: ākāsānancāyatana, viññānancāyatana, dll.
  • Setiap kondisi jhāna berhubungan dengan tiga jenis cittā: cittā bajik (kusala) dan vipāka (buah) cittā yang berhubungan adalah dua; ketika jhāna kusala cittā dialami oleh seorang Arahant, itu disebut sebuah kriyā (fungsional) cittā, karena itu tidak menuntun kepada vipāka cittā.

7. Pada 16 alam yang termasuk rupa lōka, yang hanya ada dua alat indra fisik (mata dan telinga) yang aktif, para makhluk di sini memiliki tubuh yang sangat murni (tidak padat).

  • Di rupa lōka, 15 jenis pikiran (citta) kebanyakan dialami berhubungan dengan lima faktor jhāna: vitakka, vicara, piti, sukha, ekaggata; baca, “Kekuatan Pikiran Manusia – Jhana Anariya atau Duniawi“. Ini adalah lima kusala cittā jhāna lebih rendah, berhubungan dengan lima vipāka cittā dan lima kriyā cittā (lima terakhir efektif hanya untuk para Arahant yang masuk ke kondisi jhāna ini).
  • Empat alam tertinggi mewakilkan arupa lōka, tempat para makhluk memiliki tubuh yang teramat murni dan hanya indra pikiran; tidak ada sensasi fisik. Di sini hanya ada 12 jenis jhāna cittā yang umumnya hadir. Mereka adalah empat jhāna kusala cittā lebih tinggi (empat sampai delapan), empat vipāka cittā yang berhubungan, dan empat kriyā cittā yang berhubungan (yang efektif hanya untuk para Arahant yang masuk ke kondisi jhāna ini, yang tidak memiliki vipāka cittā yang berhubungan).

8. Rupa lōka dan arupa lōka secara kolektif dikenal sebagai alam Brahma, yang meliputi 20 alam lebih tinggi. Di alam-alam Brahma, para makhluk kebanyakan tidak memiliki keserakahan dan kebencian, tapi mereka memiliki ketidaktahuan (mōha) yang tidak aktif di biji kamma mereka; baca, “Saṅkhāra, Kamma, Kamma Bīja, Kamma Vipaka“. Di alam para deva (yang termasuk di dalam kāmalōka), mereka kebanyakan tidak memiliki cittā yang berakar pada kebencian, tapi memiliki cittā yang berakar pada keserahakan karena mereka menikmati kenikmatan indra.

  • Memungkinkan bagi seorang manusia untuk mencapai kondisi-kondisi jhāna tersebut melalui meditasi samatha, dan seseorang tidak perlu menjadi seorang Buddhis untuk mencapai kondisi jhāna anariya atau duniawi tersebut.
  • Kondisi anariya jhāna tersebut hanya sementara; seorang yogi dalam kondisi jhāna bisa “dikeluarkan” dari jhāna; baca tulisan berikutnya. Kondisi tersebut bisa hilang jika seseorang tidak terus berlatih, dan kemampuan untuk masuk ke jhāna tersebut hilang ketika seseorang meninggal, cth. ada kemungkinan mereka tidak akan memiliki kemampuan untuk masuk ke jhāna pada kehidupan berikutnya, walaupun mereka terlahir sebagai manusia.
  • Namun, jika seseorang meninggal saat berada dalam kondisi anariya jhāna, mereka akan terlahir di rupa lōka atau arupa lōka yang berhubungan. Namun, makhluk yang bahkan masuk ke arupa lōka tertinggi melalui anariya jhānā suatu hari akan jatuh ke alam-alam rendah (apāyā) juga.
  • Namun, Ariya jhānā itu permanen. Ketika seseorang sudah masuk ke Ariya jhānā, hal tersebut akan bertahan sampai ke kehidupan-kehidupan berikutnya.

Informasi lebih lanjut dengan referensi ke suttā di: “Samādhi, Jhāna (Dhyāna), Magga Phala“.