Kekuatan Pikiran Manusia – Ariya Jhāna

Direvisi 12 Februari 2018; 3 Desember 2019

1. Pada tulisan sebelumnya kita telah melihat kalau jhāna Anariya dicapai dengan memusatkan pikira (vitakka) pada objek pemikiran (ārammana) APAPUN.

  • Ārammana tersebut bisa merupakan napas, objek kasina, atau simbol religius lain dari agama apapun. Lalu menaruh pikiran di sana (vicāra atau penerapan berkelanjutan) membantu seseorang untuk mencapai jhāna.

2. Sehingga, jhāna anariya atau duniawi dicapai dengan MENEKAN lima rintangan melalui konsentrasi pada objek duniawi (napas, objek kasina, dll.) Di sisi lain, Ariya jhāna dicapai dengan menggunakan Nibbāna sebagai ārammana (objek pemikiran). Namun, Nibbāna bukanlah “sebuah objek” di dunia ini, jadi yang dimaksud adalah untuk mengingat beberapa kejadian “pendinginan” yang seseorang alami.

  • Seseorang bisa memulai “pendinginan” pertama-tama dengan menjalani kehidupan bermoral dan dengan menjauhi dasa akusala; baca, “Dhamma Hidup“.
  • Ketika seseorang memahami Tiga Karakteristik (Tilakkhana) dari anicca, dukkha, anatta, paling tidak sampai titik tertentu pasti akan ada “pendinginan” yang lebih permanen seiring berjalannya waktu. Seseorang bisa melihat kembali dan menyadari “pendingin” itu. Sebagia contoh, seseorang mungkin tidak akan “memanas” pada provokasi terkecil seperti biasanya, atau seseorang mungkin kehilangan nafsu sampai titik tertentu, dll. Itulah yang perlu diingat kembali saat mengembangkan Ariya jhāna; baca #4 di bawah untuk kammaṭṭhāna.

3. Sehingga kuncinya adalah untuk pertama-tama mengalami beberapa “pendinginan” dengan memahami Tiga Karakteristik “dunia ini” yang terdiri dari 31 alam. Seseorang menyelidiki situasi-situasi kehidupan nyata dan mengerti bahwa tidak mungkin ada kebahagiaan jangka panjang, mau saat kehidupan ini atau di manapun di 31 alam; baca, “Anicca, Dukkha, Anatta” dan “Mengapa Penafsiran Benar Tentang Anicca, Dukkha, Anatta Sangat Penting?“.

  • Hal ini memunculkan nirāmisa sukha (baca, “Tiga Jenis Kebahagiaan – Apa Itu Niramisa Sukha?“) dari Nibbāna, cth. seperti sebuah “pendinginan” seiring berjalannya waktu. Butuh berapa lama untuk mengalami sedikit “pendinginan” tergantung dari orangnya.

4. Ketika seseorang mengalami sedikit “pendinginan” yang bisa diingat, maka seseorang bisa menggunakan itu dalam kammaṭṭhāna untuk mengembangkan jhāna. Prosedur ini lebih efektif untuk mereka yang telah mencapai tingkat Sōtapanna. Seseorang bisa duduk di tempat yang hening dan melafalkan kammaṭṭhāna berikut:

  • etaṃ santaṃ etaṃ paṇītaṃ, yadidaṃ sabbasaṅkhārasamatho sabbūpadhipaṭinissaggo taṇhākkhayo virāgo nirodho nibbānan’ti“, yang berarti, “Inilah satu-satunya kedamaian, satu-satunya kebahagiaan, menghalangi saṅkhāra muncul (dengan) menghapus taṇhā dan keserakahan berlebihan, sehingga menghentikan munculnya pencemaran, yaitu Nibbāna“. Hal ini perlu dilakukan ketika mengingat kembali kejadian “pendinginan” diri sendiri; baca #3 di atas.
  • Namun, prosedur di atas tidak efektif kecuali seseorang paling tidak telah mengerti sebagian dari anicca, dukkha, anatta, dan telah mengalami sedikit “pendinginan.” Ini bisa digunakan untuk masuk ke jhāna yang telah dikembangkan dengan cepat.

5. Sehingga perbedaan antara versi duniawi dan Ariya dari meditasi Samatha adalah objek meditasinya, dan inilah alasan mengapa asañña jhānā dihindari dalam meditasi Ariya. Pada yang sebelumnya, seseorang boleh fokus pada objek APAPUN; pada yang setelahnya, seseorang fokus pada Nibbāna. Sehingga, vitakka dan vicāra untuk meditasi samatha Anariya menjadi savitakka dan saviccara, menekankan fokus pada Nibbāna, dengan awalan “sa“.

  • etaṃ santaṃ etaṃ paṇītaṃ, …….” tidak bisa digunakan hanya sebagai pelafalan tanpa pengertian dari hati tentang artinya. Sehingga pelafalannya akan menjadi semakin efektif saat seseorang mulai merasakan nirāmisa sukha paling tidak sampai titik tertentu (Tidak perlu melafalkannya secara kencang; bisa dikatakan dalam hati kepada diri sendiri atau secara perlahan dengan penuh pengertian).
  • Seseorang juga bisa mulai dengan meditasi samatha Anariya apapun (meditasi napas mudah untuk dilakukan), dan ketika mulai terasa ketenangan dan tahap awal nirāmisa sukha, seseorang bisa secara permanen pindah ke versi Ariya, dengan perenungan pada anicca, dukkha, anatta dan mengingat kembali “pendinginan” diri sendiri.

6. Hal lain yang perlu diingat adalah bahwa nirāmisa sukha tidak memiliki sensasi yang setara dengan jenis āmisa sukha atau kenikmatan indrawi apapun yang tersedia melalui lima sensasi fisik. Ini lebih seperti sensasi lega. Ketika seseorang sakit kepala dan sakitnya hilang, seseorang merasakan kelegaan, ketenangan, pikiran yang damai. Nirāmisa sukha lebih seperti itu. Semakin banyak nirāmisa sukha yang seseorang rasakan, ia akan menjadi tenang ke dalam DAN ke luar.

  • Ketika seseorang masuk ke jhāna, kenikmatan jhāna bisa terasa di tubuh.
  • Pada tulisan, “Akusala Citta – Bagaimana Seorang Sōtapanna Menghindari Apayagami Citta“, saya telah menjelaskan bagaimana seorang Sōtapanna secara otomatis menghilangkan lima jenis citta yang bertanggung jawab untuk kelahiran kembali di apāya (empat alam rendah). Pada diskusi tersebut, diperlihatkan juga bagaimana vicikicca bertanggung jawab untuk kamma buruk seperti itu, dan bagaimana perenungan pada Tilakkhana (anicca, dukkha, anatta) bisa menghilangkan vicikicca, dan juga empat citta berakar pada keserakahan lain yang muncul karena pandangan salah.

7. Sehingga, ketika seseorang merenung pada anicca, dukkha, anatta, seseorang secara otomatis mulai mengurangi, tidak hanya menekan rintangan-rintangan.

Kondisi jhāna adalah kondisi batin dari alam-alam Brahma yang berada di atas alam-alam kāma lōka. Di alam kāma lōka manapun, termasuk alam-alam deva dan manusia, ada kāma rāga dan paṭigha. Kedua kāma rāga dan paṭigha tidak ada di alam-alam Brahma, seperti dalam kondisi jhāna.

Seseorang mencapai anariya jhāna dengan MENEKAN kāma rāga dan paṭigha. Seseorang mencapai Ariya jhāna dengan MENGHAPUS kāma rāga dan paṭigha.

  • Dua rintangan kāmacchanda dan vyāpāda berkurang menjadi tingkat kāma rāga dan paṭigha pada tingkat Sōtapanna. Kāma rāga dan paṭigha berkurang lebih jauh pada tingkat Sakadāgāmi, dan terhapus pada tingkat Anāgāmi. Sehingga hanya seorang Anāgāmi yang telah MENGHAPUS kāma rāga dan paṭigha.
  • Saat seseorang maju ke tingkat yang lebih tinggi dari Nibbāna, akan semakin mudah untuk mencapai jhāna.

8. Kesimpulannya, Ariya jhāna permanen secara alami dibandingkan dengan Anariya jhāna. Maksud saya bukan seseorang akan secara permanen dalam kondisi jhāna. Maksud saya adalah bahwa memungkinkan untuk seseorang masuk ke jhāna semaunya.

  • Di sisi lain, Anariya jhāna bisa “hilang”. Maksud saya seseorang yang telah mengembangkan Anariya jhāna bisa kehilangan kemampuannya untuk masuk ke jhāna tersebut. Contoh terbaik adalah Devadatta yang telah mencapai Anariya jhāna tertinggi DAN juga telah mengembangkan kekuatan luar biasa (iddhi). Dia kehilangan semua itu dan berakhir di apāya.
  • Perbedaan paling jelas dari Ariya jhāna adalah jika sudah masuk sekali ke dalam jhāna tersebut, jhāna tersebut tidak bisa diganggu oleh anusaya atau pemikiran penuh nafsu atau penuh kebencian. Bahkan walaupun seseorang secara paksa mencoba untuk memikirkan pemikiran tersebut, itu tidak akan “menempel”; pikiran menolaknya; baca, “11. Magga Phala Melalui Pengembangan Saptha Bojjhaṅga“.
  • Seseorang bisa merenungkan konsep-konsep Dhamma (savitakka, savicara) ketika berada di dalam jhāna. Hanya vitakka dan vicara yang terkurangi pada Ariya jhāna pertama, dan terhapus sepenuhnya pada jhānajhāna lebih tinggi. Melakukan meditasi pemahaman (merenungkan anicca, dukkha, anatta atau konsep Dhamma apapun) bisa dilakukan dengan pikiran jernih dan cerah.
  • Semua jhāna adalah duniawi dalam artian mereka menyediakan pengalaman jhāna dalam rupa lōka dan arupa lōka, yang masih termasuk dalam 31 alam eksistensi. Kebahagiaan Nibbāna adalah kebahagiaan tertinggi.
  • Nirōdha samāpatti yang bisa dicapai oleh seorang Arahant jauh lebih baik dan tidak bisa dibandingkan dengan jhāna apapun. Seorang Arahant bisa menikmati sensasi kebahagiaan Nibbāna terus menerus sampai sebanyak tujuh hari dalam nirōdha samāpatti.
  • Sehingga pada akhirnya yang terpenting adalah pemurnian pikiran diri sendiri; baca, “Pentingnya Pemurnian Pikiran“.

9. Seseorang mencapai Ariya jhāna pertama dengan menghilangkan (uccēda pahāna) kāma rāga, sedangkan seseorang bisa mencapai Anariya jhāna dengan menekan (vikkhambana pahāna) kāma rāga. Sehingga, seseorang akan menjadi Anāgami ketika seseorang mencapai Ariya jhāna pertama.

  • Hal ini dibahas lebih detail dan bukti dari Tipiṭaka ada di tulisan: “Jhāna Duniawi versus Adiduniawi“.
  • Bahkan beberapa pengikut Waharaka Thēro di Sri Lanka seperti tidak mengerti poin ini. Namun, Waharaka Thēro telah secara jelas menjelaskan hal ini dalam dēsana pendek berikut ini (dalam Sinhala): “Ariya and Anariya Jhana“.

Informasi lebih banyak dengan referensi ke suttāsuttā di: “Samādhi, Jhāna (Dhyāna), Magga Phala“.