Apakah Ada Prosedur untuk Mencapai Magga Phala, Jhāna, dan Abhiññā?

23 April 2017; direvisi 15 Juli 2020

1. Mempelajari Dhamma (atau mengikut Jalan) sangatlah berbeda dengan mempelajari pelajaran duniawi seperti sejarah, eknomi, atau bahkan sains dan matematika.

  • Ariya jhāna dan kekuatan abhiññā lanjutan disadari sebagai “hasil tambahan” setelah seseorang mencapai tingkat Sōtapanna. Tentunya, hanya beberapa dari mereka yang bisa mengembangkan jhāna dan kekuatan abhiññā lanjutan.
  • Bahkan mencapai magga phala tidak memiliki prosedur tetap, selain mengikuti Jalan Mulia Berunsur Delapan. Namun, kammaṭṭhāna berdasarkan kepribadian seseorang bisa membantu.
  • Hal terpenting adalah membersihkan pikiran seseorang. Segala hal akan menjadi lebih jelas dengan pikiran yang termurnikan.

2. Adalah contoh yang sangat baik diuraikan di Tipiṭaka. Ada dua bhikkhu pada zaman sang Buddha yang bernama Mahāpanthaka dan Cūḷapanthaka. Mereka berdua bersaudara dan Y.M. Mahāpanthaka adalah sang kakak. Y.M. Mahāpanthaka sudah lama berusaha untuk mengajari suatu syair tertentu (gāthā) kepada Y.M. Cūḷapanthaka selama enam bulan, tapi Y.M. Cūḷapanthaka tidak bisa mengingatnya.

  • Y.M. Mahāpanthaka menjadi frustrasi dan meminta Y.M. Cūḷapanthaka untuk melepas jubahnya dan dia pergi menangis. Sang Buddha melihat insiden ini dan sadar bahwa Y.M. Cūḷapanthaka memiliki kemampuan tersembunyi yang sangat unik.
  • Sang Buddha memberikan instruksi yang benar kepada Y.M. Cūḷapanthaka, dan Y.M. Cūḷapanthaka bukan hanya mampu mencapai tingkat Arahant, tapi juga mencapai kekuatan luar biasa yang sangat banyak pada hari yang sama. Ternyata cara untuk Y.M. Cūḷapanthaka adalah untuk melampaui poin menyangkut tertentu yang menghalangi pikirannya.
  • Dia melafalkan tidak hanya satu tapi 500 gāthā pada hari itu. Ada banyak laporan mengenai kekuatan abhiññā miliknya. Suatu kali dia membuat 999 salinan dirinya dan mereka semua melakukan berbagai macam aktivitas di kuil.
  • Poinnya adalah bahwa semua itu tidak didapatkan melalui “pengetahuan buku”. Saat penembusan datang dengan instruksi dari sang Buddha, sisanya datang mengalir deras secara langsung.
  • Tidak ada yang mengajarinya bagaimana mengingat semua 500 syair tersebut atau bagaimana mengembangkan kekuatan abhiññā. Versi lumayan baik dari cerita ini bisa ditemukan di Dhammapada Syair 25 – Cūḷapanthaka Vatthu.

3. Contoh lain adalah bagaimana Y.M. Ananda mencapai tingkat Arahant dan banyak kekuatan abhiññā dalam satu malam. Tiga bulan setelah Parinibbāna sang Buddha, Konsili Buddhis pertama (Sangāyana) akan diadakan, dan pada hari sebelumnya, Y.M. Ananda masih belum mencapai tingkat Arahant. Dia masih seorang Sōtapanna saat sang Buddha masih hidup.

  • Karena hanya Arahantsivpilisimbiya” (mereka yang memiliki paṭisambhidā ñāna) yang diperbolehkan untuk menghadiri Sangāyanā, Y.M. Ananda tertekan untuk mencapai tingkat Arahant. Meski sudah berusaha, dia masih belum mencapai tingkat Arahant pada malam sebelumnya, dan dia memutuskan untuk berbaring untuk istirahat. Saat dia sedang naik ke ranjang sambil memikirkan konsep Dhamma, dia mencapai tingkat Arahant ketika tidak dalam empat postur (belum di ranjang, tapi sudah beranjak dari lantai).
  • Bersamaan dengan itu dia mendapatkan banyak kekuatan abhiññā juga. Pada hari berikutnya, ketika dia pergi ke balai Sangāyanā, semuanya sudah di dalam. Dia berdiri di depan pintu dan mengumumkan bahwa dia telah mencapa tingkat Arahant dan meminta untuk dibukakan pintu. Salah seorang Arahant meminta Y.M. Ananda untuk menghilangkan keraguan semua yang hadir soal pencapaiannya.
  • Jadi, Y.M. Ananda masuk ke dalam dengan menembus pintu, berjalan di udara dan duduk di kursinya. Lalu sudah jelas untuk semuanya bahwa dia tidak hanya mencapai tingkat Arahant, tapi juga telah mengembangkan kekuatan abhiññā dalam satu malam; baca, “Ananda – Sang Pelindung Dhamma“.

4. Waharaka Thēro telah memberikan perumpamaan berikut untuk mengerti apa yang terjadi ketika seseorang mencapai tingkat Sōtapanna, dan MENGAPA hanya terjadi dalam seper sekian detik.

  • Misalnya orang X sedang lari bolak-balik melewati sebuah papan yang ada tulisan beberapa informasi dalam huruf yang kecil. Tidak memungkinkan untuk membaca papannya ketika sedang berlari, tidak peduli berapa kali kamu melewatinya.
  • Tapi misalkan X berhenti beberapa detik untuk membaca papannya, lalu lanjut lari bolak-balik lagi. Sekarang dia telah membaca informasi yang ada di papan itu, dia TAHU apa yang tertulis di situ, walaupun dia tidak bisa membacanya lagi saat sedang berlari.
  • Dalam hal yang sama, hanya butuh seper sekian detik bagi pikiran untuk menangkap sifat alami dari dunia ini (anicca, dukkha, anatta) ketika pikiran sedang tenang DAN jika seseorang telah cukup mempelajari materi latar belakang (dalam perumpamaan, dia harus tahu bahasa yang digunakan untuk menulis tulisan itu).
  • Ketika seseorang sedang mengumpulkan materi pembantu, dia adalah seorang Sōtapanna Anugāmi. Lalu momen Sōtapanna Phala bisa datang kapanpun. Bisa datang dan pergi bahkan tanpa disadari orang tersebut. Hanya beberapa minggu atau bulan kemudian, seseorang akan mulai menyadari perubahan permanen dalam dirinya.

5. Inilah mengapa seperti yang saya katakan pada #1 di atas, bahwa tidak ada prosedur tetap untuk melakukan kemajuan dalam Jalan atau mengembangkan kekuatan abhiññā (tentunya teknik anariya berbeda). Ketika seseorang melakukan kemajuan, seseorang akan SECARA OTOMATIS mendapatkan hasilnya berdasarkan kemajuan seseorang.

  • Seseorang akan secara otomatis mencapai magga phala.
  • Seseorang juga bisa mencapai kondisi Ariya jhāna secara berlangsung, jika seseorang telah mengembangkan dalam kehidupan-kehidupan lampau belakangan ini. Jhāna sangat berbeda dari magga phala dan mungkin tidak akan mudah untuk memastikan apakah seseorang telah mencapai Ariya atau anariya jhāna; baca, “Perbedaan Antara Jhāna dan Tingkat-tingkat Nibbāna“.
  • Walaupun teknik meditasi tertentu BISA membantu, dua faktor utama adalah kusala sīla (kehidupan bermoral) dan memahami sifat alami dunia ini, cth. Tilakkhana.

6. Tujuan kita seharusnya untuk menghilangkan penderitaan masa depan dengan mengembangkan kebijaksanaa (paññā), dan dengen demikian menghilangkan micchā diṭṭhi.

  • Tentu, mempelajari Dhamma yang benar adalah sebuah pengalaman yang menyenangkan yang bisa memotivasi seseorang untuk belajar lebih lanjut, dan dengan itu membantu memahami pesan sebenarnya sang Buddha.
  • Kuncinya adalah untuk tidak menyalahartikan “belajar” hanya dengan “menghafal”. Seseorang perlu mendapatkan ide utama atau saññā dari suatu konsep yang diberikan. Ketika seseorang mendapatkan saññā dari suatu konsep, dia tidak akan pernah kehilangan hal tersebut: “Apa Itu Saññā (Persepsi)?“.

7. Situs ini yang memiliki ratusan tulisan bisa mematahkan semangat orang-orang, berpikir bahwa dia perlu menghafal semua hal berbeda ini untuk mempelajari Dhamma.

  • Tidak perlu untuk MENGHAFAL APAPUN. Kebanyakan materi di situs ini adalah untuk referensi. Jika seseorang lupa beberapa detail mengenai sebuah konsep, mudah untuk menggunakan sistem menu, tombol “Search” di paling bawah situs ini, atau Pure Dhamma – Peta Situs untuk mencari tulisan yang diinginkan.
  • Namun, mendengarkan dēsana atau membaca Dhamma (lalu memahami konsepnya, bukan menghafal) adalah bagian penting dari pembelajaran (memahami konsep-konsep).
  • Masuk ke dalam jhāna atau mencapai magga phala tidak memiliki prosedur tetap. Mereka akan SECARA OTOMATIS dicapai ketika seseorang mengikuti Jalan dan kebijaksaannya meningkat.
  • Kuncinya adalah untuk menjauh dari dasa akusala, menjalani kehidupan bermoral, dan memahami pesan utama yang tertanam dalam anicca, dukkha, anatta dengan mempelajari Dhamma dan merenungkannya.
  • Omong-omong, ada hubungan antara dasa akusala dan anatta seperti yang telah kita bahas minggu lalu; baca, “Dasa Akusala dan Anatta – Hubungan Sangat Penting“. Jadi, anicca, dukkha, anatta berhubungan dengan dasa akusala.

8. Ingatan dan kebijaksanaan adalah dua hal berbeda, walaupun agak berhubungan. Agar dapat memahami pesan sang Buddha, seseorang perlu mengembangkan kebijaksanaan (paññā) ketimbang menghafal syair-syair. Mari kita gunakan contoh mudah untuk menjelaskan hal ini.

  • Seorang anak bisa mempelajari penjumlahan hanya dengan menghafalnya. Lalu dia akan bisa memberikan jawaban yang benar untuk penjumlahan dua angka yang telah dihafal, tapi tidak akan bisa menjumlah dua angka yang dipilih secara acak.
  • Namun, jika anak tersebut diajari CARA menjumlahkan dua angka, menggunakan sebuah teknik seperti menggunakan jari di tangan untuk mewakilkan angka, maka dia mungkin akan “melihat” MENGAPA dua tambah tiga sama dengan lima. Lalu anak itu akan bisa menjumlahkan dua angka apapun.
  • Sekali hal itu dipahami, akan mudah bagi anak itu untuk mempelajari pengurangan, perkalian, dan pembagian.
  • Namun, adalah tugas yang tidak mungkin untuk MENGHAFAL penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian dari dua angka APAPUN.

9. Ada perbedaan mendasar antara “belajar sebenarnya” (memahami konsep) dan penghafalan (hanya mengikuti aturan/instruksi membabi buta).

  • Ini adalah konsep yang sulit dipahami banyak orang saat-saat ini karena kita sudah terlalu terbiasa untuk “belajar teori”. Ada banyak orang yang bisa mengulangi tugas tertentu secara mekanis tanpa peduli untuk memikirkannya. Lalu ketika situasinya sedikit berubah, mereka tidak tahu bagaimana cara menangani “situasi baru” itu.

10. Pesan sang Buddha itu unik. Pesannya jauh melampaui menjalani kehidupan bermoral. Beberapa orang berpikir kalau menjalani kehidupan bermoral, dia akan bisa mendapatkan kehidupan selanjtunya di surga selamanya.

  • Dia sisi yang satu lagi, kumpulan orang-orang yang lain percaya bahwa membunuh orang-orang yang tidak setia dengan Tuhan mereka akan menuntun ke kehidupan di surga, yang seharusnya tidak masuk akal untuk orang-orang yang bisa berpikir.
  • Namun, jika pikiran telah tercemar dari usia muda, pemikiran-pemikiran bahaya seperti itu tertanam di pikiran dan sangat sulit untuk diubah.
  • Kedua ekstrim adalah berdasarkan kepercayaan.
  • Mudah-mudahan seseorang bisa melihat bahwa ada elemen utama dari penalaran, bukan kepercayaan, yang terlibat dalam Buddha Dhamma. Hal ini bisa dipahami oleh seorang bermoral yang bisa berpikir. Hal ini bisa diikuti sampai tingkat sangat dalam jika diinginkan.

11. Buddha Dhamma tidak bisa dipelajari melalui buku-buku atau situs ini. Tapi mereka bisa membantu menyediakan informasi (yang benar); jika informasinya salah, maka hal itu hanya akan menjadi buang-buang waktu.

  • Karena Buddha Dhamma sangat berbeda dari agama atau filosofi apapun, seseorang pertama-tama perlu mendapatkan informasi dasarnya dari seseorang yang sangat mengerti fundamentalnya (kamma/vipāka, dasa akusala, Paṭicca samuppāda, dll), lalu aspek lebih dalamnya seperti anicca, dukkha, anatta saat yang mendasar telah diserap.
  • Hal yang tidak mungkin untuk bahkan menyerap fundamentalnya kecuali seseorang telah menjalani kehidupan bermoral. Mungkin terdengar sulit dipercaya, tapi pikiran yang tercemar TIDAK BISA menyerap Buddha Dhamma.
  • Sebuah pikiran tercemar seperti sebuah kain kotor, yang tidak bisa dijadikan berwarna dengan direndam dalam pewarna. Kainnya perlu dibersihkan agar bisa menyerap pewarna dan menjadi terang.
  • Sehingga, langkah pertama adalah untuk menjauh dari dasa akusala terburuk, yang juga disebut “panca dushcharitha” atau “lima kualitas tidak bermoral”: membunuh, mencuri, perilaku seks menyimpang, berbohong, dan penggunaan alkohol/narkoba.

12. Apa yang telah dibahas di Kalama Sutta adalah langkah pertama ini: Mengerti bahwa apa yang seseorang tidak suka dilakukan ke diri sendiri, orang lain pun tidak akan suka. Tidak ada yang suka disakiti dan dimasukkan ke dalam kesukaran. Manusia normal manapun seharusnya bisa memahami konsep sederhana ini.

  • Langkah tersebut perlu terjadi sebelum seseorang mulai menjalankan lima aturan atau perilaku bermoral (panca sīla) yang lebih dalam; baca, “Lima Aturan – Apa Yang Dimaksud Oleh Sang Buddha“.
  • Hanya setelah itu seseorang bisa mulai memahami konsep lebih dalam seperti anicca, dukkha, anatta, Empat Kebenaran Mulia, dan mulau menjalani Jalan Mulia Berunsur Delapan; baca, “Apa Yang Unik Dalam Buddha Dhamma?“.
  • Kemampuan untuk mengerti konsep-konsep yang lebih dalam menjadi lebih mudah ketika seseorang memurnikan pikirannya.

13. Walaupun situs ini akan menjadi sumber daya yang berguna, seseorang sebaiknya tidak menghafal konsep utama. Pertama-tama, tidak mungkin untuk melakukan itu. Ada sangat banyak materi sehingga tidak mungkin untuk mengingat semuanya. Tapi penting untuk membaca berbagai macam aspek dan mencoba untuk “mengisi celah-celah” dalam “gambaran besar”.

  • Tentu, saya sendiri tidak mencoba mengingat semua detail. Tapi saya tahu harus mengacu ke mana untuk mendapatkan informasi apapun yang dibutuhkan. Semuanya ada di dalam Tipiṭaka, dan almarhum Waharaka Thēro telah mengklarifikasi istilah-istilah utama untuk kita agar kita bisa mencari jalan kita secara perlahan.
  • Akan menjadi lebih mudah untuk menganalisa sebuah konsep yang diberikan ketika seseorang membuat kemajuan. Semakin banyak seseorang memahami sebuah konsep (bukan hanya menghafal), arti dari konsep tersebut (dan bagaimana menggunakannya di banyak situasi) mulai terserap semakin banyak.
  • Pada titik tertentu, ketika seseorang mulai memahami konsep-konsep utama, dia akan bisa melihat hubungan dari berbagai aspek berbeda dan mulai melihat gambaran besar atau membuat gambaran besar itu semakin jelas. Itulah saatnya seorang Sōtapanna Anugāmi menjadi seorang Sōtapanna.

Informasi lebih banyak dengan referensi ke suttā di: “Samādhi, Jhāna (Dhyāna), Magga Phala“.