Fondasi Dhamma

Revisi 25 Oktober 2019

Kalau kamu belum membaca tulisan perkenalan, “Apa itu Buddha Dhamma?“, silakan baca itu terlebih dahulu. Tulisan tersebut menjelaskan aspek unik Buddha Dhamma, dalam artian ini bukanlah agama dalam beberapa definisi dan sang Buddha bukanlah penyelamat.

1. Ada dua aspek berdampingan dalam Buddha Dhamma:

  • Sang Buddha mengatakan, “Dhamma ini tidak seperti apapun yang dunia pernah ketahui”. Butuh sebuah perubahan paradigma untuk masuk ke dalam “perspektif baru tentang pandangan dunia sang Buddha”. Seseorang harus bisa mengesampingkan semua pendapat yang terbentuk sebelumnya untuk mengerti inti dari pesannya.
  • Namun, sang Buddha juga mengatakan, “Dhamma saya baik di awal, baik di pertengahan, dan baik di akhir”. Ada sesuatu yang bisa didapatkan dari Buddha Dhamma bagi orang-orang yang baru mulai mengetahuinya sampai orang-orang yang telah menangkap inti konsepnya. Karena inilah saya memisahkan tulisan-tulisan ke dalam tiga kategori di situs ini.
  • Banyak istilah penting, bahkan seluruh sutta, bisa ditafsirkan dalam beberapa tingkat, mulai dari dangkal sampai arti sangat dalam. Selagi saya membangun situs ini, saya akan coba untuk memberikan beberapa contoh. Sebagai contoh, lima sila memiliki arti yang lebih dalam daripada yang terlihat. Melihat arti yang lebih dalam tersebut memuaskan dan menggembirakan ketika seseorang membuat kemajuan. Karena itu, ada sesuatu yang bisa didapatkan di setiap tingkat.

2. Ada tiga cara dasar untuk melatih Dhamma:

  • Pada tingkat paling dasar (baca, “Hidup Moral dan Fundamental“), seseorang bisa mencari kebahagiaan atau kesedihan dalam hidup ini tergantung dari cara ia menjalani hidupnya. Seseorang yang perilakunya menyakiti diri sendiri atau orang lain akan hidup dalam kesedihan. Seseorang mungkin terlihat hidup dalam kemewahan, tapi bisa saja hidup dalam kesedihan. Kita tahu banyak orang kaya/terkenal yang bunuh diri.
  • Pada tingkat berikutnya, seseorang menjalani kehidupan bermoral dan mengumpulkan kamma baik yang bisa membawa ke kehidupan baik pada kelahiran berikutnya. Tetapi, kita harus tetap ingat bahwa walaupun seseorang tidak melakukan satupun kamma buruk, kelahiran berikutnya bisa menjadi buruk dikarenakan “benih kamma buruk” dari kehidupan-kehidupan sebelumnya; baca, “Berusaha Menuju Kelahiran Kembali Yang Baik“.
  • Pada tingkat tertinggi, seseorang akan bertindak untuk menghapus semua kotoran dari pikirannya agar pikirannya menjadi terbebas dari tubuh yang menyebabkan semua penderitaan. Karena itu seseorang akan berusaha untuk mencapai Nibbana, kebahagiaan permanen yang tidak berkondisi; baca, “Mencari Nibbana“.

3. Situs ini disusun dalam tiga tingkat tersebut:

  • Kebanyakan orang secara intuitif tahu manfaat dari kehidupan bermoral. Dhamma akan bantu memahami mengapa, dan bahkan menunjukkan beberapa perkembangan yang memungkinkan.
  • Saat seseorang menjalani kehidupan bermoral dan MENGALAMI manfaatnya, ia akan secara otomatis ditarik untuk berpikir tentang apakah ada kehidupan setelah kematian. Seseorang membaca tentang bukti-bukti yang mendukung/menolak kemungkinan ini. Jika jawabannya “ya”, maka ia akan mencari cara untuk berusaha menuju kehidupan yang lebih baik di kelahiran berikutnya. Ini tidak jauh berbeda dari perilaku bermoral di atas. Ini hanya seseorang akan belajar banyak mengenai “dunia” yang kita tinggali.
  • Ketika tingkat kedua tercapai, beberapa mungkin ingin setidaknya menjelajahi tingkat ketiga. INILAH pesan sang Buddha, bahwa tidak peduli di mana seseorang terlahir di kehidupan berikutnya, TIDAK ADA jaminan kalau kehidupan-kehidupan berikutnya akan bebas dari penderitaan. Inilah jalan menuju Nibbana, menuju terhentinya penderitaan secara permanen.

4. Langsung menuju ke tingkat ketiga akan seperti masuk ke SMA tanpa menyelesaikan SD dan SMP.

  • Namun, walaupun seseorang belum pernah mendengar apapun mengenai Buddha Dhamma sebelumnya, beberapa mungkin sudah berada di tingkat kedua, dan beberapa bahkan mungkin sudah siap untuk tingkat ketiga. Kehidupan ini tidak dimulai dari kelahiran kali ini. Setiap diri kita telah berjalan jauh dan telah membentuk karakter kita melalui banyak kehidupan di masa lalu. Karena itu, walaupun seseorang tidak menyadarinya, ia mungkin secara mental sudah siap untuk menangani tingkat ketiga. Jadi, tolong lihat sekelilingmu dan carilah titik permulaan yang nyaman untuk dirimu; baca, “Mulai Dari Mana di Jalan?“. Hanya kamu yang mengetahui dirimu!

5. Sangat penting untuk menyadari bahwa “pengetahuan” tidaklah sempurna di tingkat manapun selama seseorang berada “di dunia ini”. Walaupun ia tidak membicarakan hal tersebut, ahli fisika terkenal, Richard Feynman, mengilustrasikan poin ini dengan baik di video ini:

Mari kita ambil contohnya tentang seseorang terpeleset di atas es. Seorang mabuk melangkan ke permukaan tertutup es bahkan tidak sadar bahwa itu es dan licin. Pada tingkat berikutnya, seseorang yang waspada tahu bahwa permukaannya licin, dan karena itu akan berhati-hati. Tapi jika seseorang perlu tahu mengapa permukaan es licin, maka sedikit fisika dasar dibutuhkan untuk memahami “mengapa es licin.” Tidak perlu untuk mengerti “mengapa es licin” jika seseorang memiliki pikiran yang tidak tercemar; seorang sadar dengan pikiran tenang akan mengambil pencegahan ketika melangkan di permukaan licin. Situasi lebih rumit membutuhkan pembersihan “pikiran orang awam” lebih banyak. Di sinilah Buddha Dhamma membuat sebuah perbedaan.

6. Walaupun manusia memiliki perasaan alami mengenai apa yang benar dan apa yang salah, pikiran manusia tercemar oleh lima rintangan; baca, “Kunci Untuk Mendamaikan Pikiran – Lima Rintangan“.

  • Saat Teori Dhamma dimengerti, hanyan dengan pengertian itu saja menuntun ke pembersihan beberapa rintangan tersebut; selain itu, logika kehidupan moral datang secara alami dari Teori Dhamma. Pengertian Teori Dhamma ini, atau paling tidak sedikit pengetahuan tentang apa fondasi dasar Buddha Dhamma adalah PENTING dan seharusnya dilakukan sebelum seseorang mulai “berlatih” Dhamma.
  • Jika seseorang yang menjalani kehidupan bermoral membaca tentang Teori Dhamma, ia mungkin akan termotivasi untuk menjelajahi tingkat kedua, seperti memikirkan tentang validitas proses kelahiran kembali, yang adalah aksioma utama Buddha Dhamma.
  • Ketika seseorang MENJALANI hidup dengan kepercayaan bahwa apa yang dirinya lakukan di kehidupan ini akan memengaruhi apa yang terjadi setelah kehidupan ini, maka dia akan sadar bahayanya melintasi lingkaran kelahiran kembali tanpa batas ini. Hal tersebut akan menuntun ke penjelajahan tingkat ketiga, yang ADALAH pesan sebenarnya sang Buddha.

7. Tidak ada orang yang bisa membawa orang lain ke kebahagiaan duniawi yang berarti dengan niramisa sukha (di kehidupan ini atau berikutnya) atau ke Nibbana.

  • Sang Buddha berkata, “Attä hi attano nätho, kö hi näthö paro siyä“, yang berarti, “Diri sendiri sesungguhnya adalah pelindung bagi diri sendiri. Karena siapa pula yang dapat menjadi pelindung bagi dirinya?“.
  • Setiap orang memiliki pikirannya sendiri. Dan itulah yang dibutuhkan untuk dimurnikan agar mendapatkan kehidupan damai saat ini, kehidupan lebih baik di berikutnya, atau bahkan Nibbana. Tapi orang lain BISA membantu.
  • Semuanya tergantung kepada masing-masing individu. Situs ini akan membantu seseorang mencari jalan yang tepat.