Empat Kebenaran Mulia – Penderitaan dan Eliminasinya

6 January 2019

Perkenalan

1. Kebenaran Mulia Pertama adalah tentang penderitaan yang bisa dieliminasi agar tidak muncul.

  • Yang kedua menjelaskan bagaimana penderitaan muncul, dikarenakan kehausan kita sendiri (yang kita wujudkan melalui saṅkhāra kita yang kita hasilkan secara sukarela, seperti yang pernah kita bahas; baca, “Sankhāra – What It Really Means“). Saya akan menulis versi lebih mudah di tulisan berikutnya.
  • Kebenaran Mulia Ketiga mengatakan penderitaan masa depan bisa dihentikan dengan mengeliminasi kehausan tersebut. Hal itu MEMBUTUHKAN pemahaman tentang pandangan dunia lebih luas sang Buddha dengan proses kelahiran kembali di 31 alam.
  • Kebenaran Mulia Keempat adalah cara untuk mendapatkan pemahaman itu dengan “mempelajari dan hidup dalam” Dhammā tersebut (dengan mengikuti Kebenaran Mulia Delapan Ruas).

2. Sang Buddha berkata, “Dhammā-ku belum pernah diketahui dunia ini. Dhammā ini belum pernah didengar sebelumnya.”

  • Apa yang baru dengan mengetahui adanya penderitaan di sekeliling kita? Semua orang tahu bahwa ada penderitaan dengan umur tua, penyakit, kemiskinan, dll. Seseorang tidak perlu menjadi Buddhis untuk melihat hal itu.
  • Jadi, kita perlu mencari tahu “apa yang baru” tentang penderitaan yang dijelaskan pada Kebenaran Mulia Pertama.

Kebenaran Mulia Pertama – Apa Itu Penderitaan

3. Saya telah membahas Kebenaran Mulia Pertama di tulisan “Essence of Buddhism – In the First Sutta“. Ringkasan:

“Kelahiran adalah penderitaan, menjadi tua adalah penderitaan, menjadi sakit adalah penderitaan, kematian adalah penderitaan. Perlu berasosiasi dengan hal-hal yang tidak disukai adalah penderitaan, dan harus berpisah dari hal-hal yang disukai adalah penderitaan. Jika seseorang tidak mendapatkan yang mereka suka (iccha), itulah penderitaan – Melakukan aktivitas duniawi (samkittena) untuk mendapatkan semua hal yang sangat diinginkan (pancupādānakkhandha) adalah penderitaan.

  • Ada makna lebih dalam di bagian, “Jika seseorang tidak mendapatkan yang mereka suka (iccha), itulah penderitaan“. Kalimat ini mengacu pada sifat anicca.
  • Makna lebih dalam tersebut diekspresikan dalam istilah taṇhā (kehausan) di bagian akhir, “Melakukan aktivitas duniawi (samkittena) untuk mendapatkan semua hal yang sangat diinginkan (pancupādānakkhandha) adalah penderitaan.

4. Seperti pada sains, sesuatu muncul dikarenakan sebab-sebab. Kehidupan kita saat ini sebagai manusia muncul dikarenakan sebab-sebab (kamma) yang dilakukan di masa lalu. Beberapa adalah “kamma baik” dan itulah mengapa kita bisa menikmati beberapa kenikmatan. Kamma buruk telah menuntun ke peristiwa yang menderita.

  • Tapi ada alam-alam lebih rendah, termasuk alam binatang, yang penderitaannya jauh lebih hebat. Kamma buruk menuntun ke kelahiran tersebut.
  • Penderitaan di empat alam terendah adalah penderitaan sebenarnya. Itulah yang perlu kita perhatikan terlebih dahulu.
  • Dan semua penderitaan tersebut muncul karena kita menginginkan sesuatu dengan sangat kuat di dunia ini karena avijjā kita (tidak memahami Empat Kebenaran Mulia).

5. Melihat penderitaan tersembunyi ini benar-benar sulit. Ketika sang Buddha mencapai Ke-Buddha-an, disebutkan kalau ia khawatir apakah ia bisa menyampaikan gagasan yang dalam ini kepada kebanyakan orang.

  • Kita mencari kenikmatan yang sangat terlihat. Tapi jika kita mendapatkan kenikmatan itu dengan perbuatan amoral, akibatnya tidak langsung terlihat. Kita bisa melihat sebuah batu yang dilempar ke atas langsung jatuh, tapi kita tidak bisa melihat akibat buruk apapun terhadap pengedar narkoba yang terlihat menikmati kehidupan.

Kebenaran Mulia Kedua – Sebab-Sebab Untuk Penderitaan Masa Depan

6. Penyebab dari penderitaan masa depan ditunjukkan di Kebenaran Mulia Pertama: adalah keinginan kuat kita untuk kenikmatan indrawi. Hasil terburuk (kelahiran kembali di apāyā) akan terjadi jika kita melakukan perbuatan amoral untuk mendapatkan kenikmatan indrawi tersebut.

  • Sebagai contoh, X mungkin membunuh orang lain untuk mendapatkan uangnya atau menikahi istrinya. Walaupun X mungkin mencapai tujuan itu dan “menikmati hidup” untuk selama 100 tahun, itu tidak sebanding dengan jutaan tahun penderitaan di masa depan yang harus X terima karena perbuatan amoralnya.

7. Ketika ikan menggigit umpan, dia tidak melihat penderitaan tersembunyi dari perbuatan tersebut. Kita bisa melihat gambaran keseluruhannya ketika melihat dari darat dan kita tahu apa yang akan terjadi jika ikan menggigit umpan tersebut. Tapi ikan tidak bisa melihat gambaran keseluruhan itu, sehingga tidak melihat penderitaan yang tersembunyi. Dia hanya melihat sebuah makanan yang enak.

  • Dengan cara yang sama, jika kita tidak mengetahui dunia lebih luas dengan 31 alamnya (dengan empat alam terendah yang penuh penderitaan), kita hanya fokus pada apa yang mudah diraih oleh enam indra kita.
  • Agar dapat benar-benar memahami penderitaan melalui kelahiran kembali berulang, seseorang perlu memahami kalau kebanyakan penderitaan ditemukan di 4 alam terendah (apāyā); baca, “Teori Manunggal Agung Dhamma“.
  • Sehingga menghentikan penderitaan membutuhkan seseorang untuk sadar penuh akan perbuatannya dan menghentikan vaci dan kāya saṅkhāra yang buruk (pemikiran, ucapan, dan perbuatan amoral).

8. Sehingga, “kebenaran tentang penderitaan yang belum pernah diketahui” yang ditunjukkan Buddha adalah penderitaan yang tersembunyi di dalam kenikmatan indrawi. Tingkat penderitaannya tergantung pada apa yang kita lakukan (vaci dan kāya saṅkhāra) untuk mendapatkan kenikmatan tersebut. Jika perbuatan amoral maka hasilnya adalah penderitaan terburuk dalam apāyā.

  • Kita percaya kalau kenikmatan indrawi adalah untuk dihargai dan dinikmati. Itu karena kita tidak langsung melihat konsekuensi dari perbuatan buruk yang kita lakukan demi mendapatkan kenikmatan indrawi tersebut.
  • Sebagai contoh, jika seseorang memperkosa seorang wanita untuk mendapatkan kenikmatan dalam jangka pendek, ia bisa menghabiskan waktu jutaan tahun sebagai binatang di kehidupan masa depannya karena perbuatan amoralnya.
  • Namun, mungkin tahap ini tidak mudah dimengerti. Seseorang perlu berjalan setahap demi setahap; baca, “Is It Necessary for a Buddhist to Eliminate Sensual Desires?“.
  • Langkah pertama untuk mengurangi penderitaan di masa depan adalah menghindari perbuatan buruk (kamma) melalui pikiran, ucapan, dan perbuatan (ketiga hal ini berhubungan dengan manō, vaci, dan kāya saṅkhāra).
  • Sehingga, kita menciptakan kebahagiaan masa depan kita melalui puñña abhisaṅkhāra (saṅkhāra baik) atau penderitaan masa depan melalui apuñña abhisaṅkhāra (saṅkhāra buruk).

Kebenaran Mulia Ketiga – Bagaimana Menghentikan Penderitaan Masa Depan

9. Seperti yang dibahas di atas, penderitaan bisa muncul di kehidupan ini karena (apunnābhi) saṅkhāra kita sendiri yang kita hasilkan untuk memuaskan kehausan kita).

  • Dengan cara yang sama, SEMUA PENDERITAAN MASA DEPAN juga bisa dihentikan dengan mengontrol saṅkhāra kita.
  • Kita melekat pada hal-hal dengan keserakahan dan kebencian melalui saṅkhāra karena ketidaktahuan kita tentang Empat Kebenaran Mulia (avijjā). Seperti yang telah kita bahas sebelumnya, ini adalah langkah pertama dalam Paṭicca Samuppāda yang menuntun ke “keseluruhan bentuk penderitaan”: “avijjā paccayā saṅkhāra“.

10. Kebenaran Mulia Ketiga adalah tentang apa yang bisa dicapai dengan menghilangkan sebab-sebab tersebut secara sistematis.

  • Nirāmisa sukha meningkat dari titik awal kita mulai menapak sang Jalan, dan ada peningkatan PERMANEN pada empat tahap yang dimulai dari tingkat Sōtapanna dan berpuncak pada tingkat Arahat; ada beberapa tulisan yang dimulai dari, “Three Kinds of Happiness – What is Nirāmisa Sukha?“.

11. Agar dapat menghentikan munculnya “saṅkhāra buruk”, kita perlu melakukan dua hal: (1) menghilangkan avijjā dengan mempelajari Dhamma sejati, dan (2) menggunakan kebebasan kehendak kita untuk mendapatkan kontrol saṅkhāra kita sendiri (inilah dasar dari Ānāpāna/Satipaṭṭhāna).

  • Cara sistematis untuk mencapai ini disebutkan di dalam Empat Kebenaran Mulia.

Kebenaran Mulia Keempat – Cara Menghentikan Penderitaan Masa Depan

12. Kebenaran Mulia Kedua menjelaskan SEBAB-SEBAB yang perlu kita hilangkan. Akar penyebabnya adalah keserakahan, kebencian, dan kebodohan, tapi mereka harus dihilangkan terutama melalui pemahaman tentang Tiga Karakteristik (Tilakkhana) dan juga dengan menghilangkan kebiasaan buruk saṃsārik kita; baca tulisan berseri tentang hal ini dimulai dari, “Habits, Goals, Character (Gati)” sampai “The Way to Nibbāna – Removal of Āsavā“.

  • Cara untuk mencapainya adalah dengan mengikuti Jalan Mulia Delapan Ruas: Sammā Diṭṭhi (pemahaman tentang apa yang tertanam di dalam Empat Kebenaran Mulia), lalu berpikir, (saṅkappa), berbicara (vācā) , berbuat (kammaṃta), menjalani hidup kita dengan cara tersebut (ājiva), berjuang lebih keras (vāyāma), mencapai pola pikir yang benar (sati), dan akhirnya ke samādhi.

13. Ketika kita mengikuti Jalan Mulia Delapan Ruas, nirāmisa sukha muncul terlebih dahulu, lalu berbagai tingkat Nibbāna menyusul.

  • Nirāmisa sukha dimulai ketika seseorang menjalani hidup bermoral (baca, “Ten Immoral Actions (Dasa Akusala)” dan tulisan-tulisan susulannya).
  • Akar penyebab dari perbuatan amoral adalah keserakahan, kebencian, dan kebodohan. Kebodohan bisa dikurangi sampai sejauh mencapai tingkat Sōtapanna hanya dengan memahami Tiga Karakteristik “dunia dengan 31 alam ini”, yaitu anicca, dukkha, anatta; baca, “Anicca, Dukkha, Anatta – Wrong Interpretations“, dan tulisan-tulisan susulannya.

Mengapa Sulit Untuk Melihat “Penderitaan Tersembunyi”? – Jeda Waktu

14. Masalah utama untuk melihat jelas “sebab dan akibat dari tindakan batin” adalah hasil dari tindakan-tindakan tersebut memiliki jeda waktu, dan jeda waktu tersebut tidak bisa diprediksi.

  • Sebaliknya, mudah untuk memprediksi apa yang akan terjadi dengan benda materi (menggerakkan sebuah objek, kendaraan, roket, dll). Kesuksesan sains fisik adalah karena hal ini. Saat hukum dasarnya ditemukan (hukum gravitasi, hukum gerakan, elektromagnetisme, kekuatan nuklir, mekanika kuantum, dll), seseorang memiliki kontrol yang lengkap.

15. Tetapi batin sangatlah berbeda. Pada dasarnya, tidak ada dua batin yang bekerja dalam cara yang sama. Pada sebuah kondisi tertentu, setiap batin akan memilih untuk bertindak secara berbeda. Dengan objek fisik, itu tidak demikian; pada sebuah kondisi tertentu, apa yang akan terjadi bisa diprediksi secara akurat.

  • Efek dari beberapa perbuatan (kamma) bisa tidak terwujud pada kehidupan saat ini dan terkadang hanya akan berbuah setelah banyak kehidupan (tapi dengan bunga yang terkumpul).
  • Bahkan pada kehidupan saat ini, fenomena batin itu kompleks: Inilah mengapa ekonomi bukan sebuah “sains nyata”. Hal ini melibatkan bagaimana seseorang terkadang bertindak “irasional” untuk keuntungan yang terlihat. Tidak ada teori ekonomi yang bisa memprediksi secara tepat bagaimana performa sebuah bursa saham.

16. “Sebab dan akibat” yang melibatkan batin ini adalah prinsip dari kamma dan kamma vipāka dalam Buddha Dhamma.

  • Tapi tidak seperti dalam agama Hindu, kamma bukan penentu mutlak, yaitu tidak semua kamma vipāka harus berbuah; baca, “What is Kamma? Is Everything Determined by Kamma?“.
  • KONDISI-KONDISI yang cocok harus ada untuk membuat kamma vipāka baik atau buruk berbuah. Itulah mengapa kamma bukan penentu mutlak dan kita bisa menghentikan SELURUH penderitaan masa depan.
  • Kita hanya perlu menghilangkan avijjā dan taṇhā, dua langkah utama dalam Paṭicca Samuppāda. Itulah bagaimana Angulimāla melampaui seluruh kamma buruk dari membunuh hampir 1000 orang.

Hanya Sebagian Dari Penderitaan Di Kehidupan Saat Ini Bisa Dieliminasi

Akhirnya, kita bisa melihat penederitaan apa saja yang bisa dihentikan saat ini juga agar kita menjadi yakin dalam Buddha Dhamma. Seseorang tidak perlu percaya membuta dan mengikuti ajaran Buddha.

17. Ada dua jenis vēdanā (perasaan); baca, “Vēdanā (Feelings) Arise in Two Ways“.

  • Yang pertama disebabkan oleh kamma vipāka.
  • Yang kedua adalah penderitaan batin yang disebabkan oleh saṅkhāra (melalui kemelekatan kepada kenikmatan sensual dan perselisihan (paṭigha) terhadap hal yang tidak kita suka). Hal ini dapat menuntun ke depresi.

18. Kehidupan saat ini adalah HASIL dari kamma masa lalu. Ketika sebuah kehidupan dimulai, tidak dapat dihentikan sampai “energi kamma-nya” dihabiskan. Kehidupan ini AKAN berakhir pada menjadi tua, lapuk, dan kematian.

  • Jadi, jika seseorang terserang rasa nyeri dan sakit karena umur tua, satu-satunya cara untuk menghilangkan atau mengurangi rasa tersebut adalah dengan menggunakan pengobatan atau terapi.
  • Bahkan sang Buddha terserang sakit punggung karena umur tua, dan terserang sakit perut akut di hari-hari terakhirnya.
  • Seseorang bisa terluka, terserang penyakit, dan lain-lain.
  • Semua ini disebabkan oleh kamma vipāka.

19. Di sisi lain, sangat mungkin untuk menghentikan jenis yang kedua (“penderitaan batin”) yang muncul disebabkan oleh cara berpikir kita sendiri (lagi, vaci saṅkhāra kita sendiri).

  • Jadi, kita bisa MENGALAMI kelegaan dari penderitaan (disebut nirāmisa sukha) pada kehidupan ini juga.
  • Penderitaan (atau vēdanā) yang telah dihilangkan seorang Arahat hidup disebut “samphassa ja vēdanā“. Ini yang menuntun ke depresi pada seseorang.
  • Artinya, “samphassa” adalah “san” + “phassa“, atau “kontak dengan pencemaran (san) diri sendiri”; baca, “Apa itu “San”? Arti dari Sansāra (atau Saṃsāra)“.

Manusia Memiliki Kehendak Bebas Untuk Mengeliminasi Penderitaan Masa Depan

20. Kehidupan kita sebagai manusia adalah HASIL dari perbuatan baik masa lalu. Kehidupan sebagai seekor anjing atau semut adalah hasil dari perbuatan masa lalu dari makhluk hidup tersebut.

  • Dan apa yang terjadi kepada kita dalam kehidupan saat ini adalah KOMBINASI dari apa yang telah kita lakukan di masa lalu (kamma vipāka) DAN apa yang kita lakukan di kehidupan saat ini.
  • Apa yang terjadi terhadap seekor binatang KEBANYAKAN disebabkan oleh kamma vipāka masa lalu.
  • Perbedaan antara manusia dan binatang adalah binatang tidak memiliki banyak kontrol terhadap apa yang akan terjadi kepadanya. Tapi kelahiran sebagai manusia itu spesial: kita memiliki tingkat batin yang lebih tinggi yang BISA mengubah masa depan sampai tahap tertentu, dan kemungkinan dengan konsekuensi besar.
  • Kita memiliki kehendak bebas dan binatang (atau para makhluk di alam rendah lain) tidak. Kita bisa mengontrol saṅkhāra kita, dan mereka tidak bisa. Sangat sulit untuk mendapatkan kelahiran sebagai manusia. Kita tidak sepatutnya menyia-nyiakan kesempatan saat ini.